Satu Pesan Tiga Peristiwa

The Mother earth

The Mother earth

Minggu lalu bisa dikatakan merupakan salah satu rentang waktu yang penuh inspirasi karena dalam minggu itu terdapat tiga peringatan penting meskipun ketiganya tidak berhubungan secara historikal. Peristiwa pertama adalah ketika kita memperingati kelahiran Kartini pada tanggal 21 April; Peristiwa kedua terjadi sehari sesudahnya, 22 April dimana warga dunia memperingati Hari Bumi Internasional, dan: Yang terakhir adalah rangkaian perayaan Paskah yang diperingati oleh seluruh umat Kristiani di dunia. Semuanya terjadi berururutan bahkan berhimpitan, masing-masing diperingati oleh kelompok-kelompok yang seolah terpisah: hari Kartini milik para feminis dan aktivis sosial, hari Bumi diperingati oleh para environmentalis dan aktivis lingkungan, sementara Paskah adalah seolah milik umat Nasrani.

Yang memberi inspirasi pada penulis mengenai ketiga peringatan ini adalah bahwa ketiganya membawa pesan yang sama yakni bagaimana manusia diminta untuk mengedepankan sisi feminin daripada melulu sesuatu yang bersifat maskulin. Femininitas sendiri merupakan salah satu sisi dari dualisme semesta dimana unsur melahirkan, merawat, menjaga, pasif, menenangkan dan mendamaikan tampil lebih dominan daripada unsur sebaliknya yakni maskulinitas. Maskulinitas adalah sisi lain dari koin semesta ini dimana unsurnya didominasi oleh hadirnya kekuatan, perubahan, penghancuran, aktif dan dinamis. Keduanya saling bertentangan namun sekaligus merupakan kesatuan semesta yang sifatnya alamiah, ibarat yin dan yang untuk menciptakan keseimbangan dunia dan kosmik. Keduanya mutlak ada dalam dunia jika tidak menginginkan kemandegan maupun sebaliknya, kehancuran bagi semesta kita ini.

Kartini

Kelahiran Kartini pada tanggal 21 April 1879 menjadi tonggak peringatan bangsa Indonesia sekaligus sebagai tugu terimakasih atas apa yang telah disumbangkan perempuan pejuang ini bagi kemajuan bangsa Indonesia. Kartini dikenang bukan karena ia pintar berbahasa Jawa halus, tidak juga karena bisa tampil elegan dengan kebaya dan kondenya melainkan dikenang karena ia memperjuangkan suatu nilai dan paham baru di tengah tradisi dan kultur feodal yang mengkerangkeng dirinya dan kaum perempuan serta menentang kolonialisme yang justru mendukung feodalisme yang memenjara perempuan dan bangsanya menjadi sebatas jongos di negeri sendiri.

Kartini tidak diam, tak hanya berurai air mata dan berdoa di tengah malam melainkan melawan feodalisme dan kolonialisme itu. Bukan dengan mengangkat senjata, bukan dengan diplomasi di ruang parlemen, melainkan dengan menulis, menyediakan pendidikan bagi lingkungan sekitarnya dan memberdayakan para pengrajin ukir, intinya Kartini melawan dengan mendidik bangsanya. Memang tidak terdengar gagah layaknya kisah tentara, pun tak segarang harimau panggung orasi, namun Kartini berangkat justru dari hal paling mendasar yakni penguatan kapasitas pengetahuan dan ketrampilan pribadi sebagai titik tolak perlawanannya. Sesuatu yang di masa depan dilanjutkan oleh Dewi Sartika, Bung Hatta dan para pendidik lainnya. Ketika senjata dan orasi tak lagi bisa digunakan, bibit pendidikan tetap tumbuh bagaikan batang pohon yang hendak mencengkeram angkasa.

Bumi

Jutaan orang berkumpul di pusat kota New York pada tanggal 22 April 1970 untuk mengkritik dan meneriakkan sumpah serapah mereka kepada para perusak lingkungan yang kebanyakan adalah para korporat yang memerah bumi sekehendak hatinya tanpa memperhitungkan aspek perlindungan dan keseimbangan ekosistemnya termasuk manusia (Kompas, 21 April 2011). Sebenarnya tak hanya korporasi yang menjadi semata tertuduh atas perusakan bumi ini melainkan juga state atau negara yang berkongsi dengan pihak korporat swasta untuk mengeruk bumi untuk mendapatkan keuntungan besar bagi kantong mereka sendiri.

Tahun 1970-an merupakan tonggak bagi negara-negara kaya dan bersama para ”negara kliennya” yakni para developmentalis untuk memproklamasikan sebuah gerakan global untuk meningkatkan rekayasa alam untuk mengakselerasi pertumbuhan ekspor hasil bumi. Gerakan global ini dikenal dengan nama Revolusi Hijau (dimunculkan oleh William Gaud, eks Direktur USAID dan didukung oleh Ford Foundation dan Rockefeller Foundation) yakni usaha memaksa bumi untuk menghasilkan lebih banyak hasil daripada sekedar dikelola secara alamiah dan subsisten. Skema ekspor impor antar negara tak akan bisa dipenuhi jika pertanian hanya mendasarkan diri pada kemampuan tanah dan siklus alamiah, tanah harus dipacu agar menghasilkan lebih banyak produksi. Semakin besar produksi semakin besar ekspor,  dan semakin besar ekspor maka akan lebih banyak pendapatan suatu negara, begitu kira-kira diktum yang menyesatkan itu. (Vandana Shiva ”Violence of Green Revolution” 1992)

Mimpi ini kemudian dikembangkan oleh para ekonom negara besar yang karakternya industrialis seperti AS dengan tujuan agar kebutuhan akan hasil alam dapat dipenuhi bagi penduduk mereka lewat perdagangan antar negara sementara mereka akan lebih konsentrasi untuk memproduksi produk manufaktur ataupun agroindustri. Sekilas tampak sangat adil, namun setelah dua dekade barulah tampak bahwa Revolusi Hijau telah menghancurkan fondasi ekonomi negara-negara pengekspor hasil bumi yang kebanyakan negara ketiga di Asia, Amerika Tengah dan Afrika.

Dari sisi ekonomi jelas tidak sebanding antara harga 1 kentang yang dijual ke AS misalnya dengan harga 1 bungkus potato chips yang dijual oleh AS ke negara ketiga tadi maka ilustrasinya, sebuah negara harus menjual 1 kg kentang hanya untuk membeli 1 kantong kripik kentang. Ini ketidakadilan yang tampak paling sederhana dari hubungan ekspor impor ini. Terbukti kemudian bahwa para negara pengekspor hasil bumi tak ada yang kaya dan sejahtera, inilah nasib sang Banana Republic, istilah yang dilabelkan pada negara-negara yang hanya mengandalkan penjualan bahan mentah ke negara industri maju.

Dari sisi ekologis (yang jelas tak bisa hanya dikalkulasi secara ekonomis) kerusakan lingkungan tak terbantahkan, keragaman bibit lokal hancur oleh bibit hibrida buatan pabrik, penggunaan pupuk kimia pemacu tanah menghancurkan kesuburan tanah petani, air dikuras habis, pertanian pangan lokal ditinggalkan karena tak punya nilai ekspor, perempuan disingkirkan oleh mekanisasi pertanian, dan saat ekonomi kolaps, petani berubah jadi buruh tani, menjual tanah pertaniannya atau jadi pengangguran. Ibu Bumi tak lagi mampu mengeluarkan susunya, habis diperas secara semena-mena sementara para perawatnya telah dipinggirkan.

Paskah

Paskah menjadi perayaan terbesar bagi umat Kristiani karena pada hari-hari itu mereka memperingati salah satu momen pengorbanan terbesar dalam sejarah manusia, Yesus anak seorang tukang kayu menjadi seorang guru yang membawa nilai baru dalam spritualitas, nilai perdamaian dan cinta kasih harus dibunuh karena dianggap menggoyahkan tatanan budaya reliji lama. Kematian adalah harga yang harus dibayar karena menginginkan timbulnya damai di dunia.

Yesus dipaksa terpancang di kayu salib di atas bukit Kalvari, dipaku di atas simbol penghinaan namun tetaplah pemaafan yang diberikan pada orang-orang yang mencaci dan menyiksanya. Di atas bukit pulalah sebelumnya Yesus memberikan sebuah wejangan yang mungkin paling dikenang oleh seluruh warga dunia yang cinta perdamaian, peristiwa itu dikenal dengan nama ”Khotbah di Atas Bukit” dimana Yesus menyampaikan pesan damainya secara universal kepada seluruh manusia untuk mengganti pemahaman lama bahwa ”kita harus mengasihi sesama dan kita harus membenci musuh kita” menjadi pemahaman dan sikap baru ”… kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5:43) Sikap yang tetap dipertahankannya sampai titik darah terakhir. Sikap yang kemudian dikembangkan juga oleh para pemimpin besar dunia yang begitu mencintai perdamaian seperti Mahatma Gandhi, Dalai Lama dan juga Nelson Mandela.

Menghadirkan kembali sisi feminin

Ketiganya muncul di masa dan tempat berbeda, para pengenangnya pun berbeda, namun justru penulis merasa bahwa suatu kebetulan ini memberi makna lebih bahwa tahun ini, jadikanlah sebagai tahun yang damai, tahun dimana nilai-nilai feminin dihadirkan untuk mengimbangi dunia yang telanjur terlalu maskulin dan macho ini.

Vandana Shiva, seorang Feminis Ekologis pernah mengungkapkan teorinya bahwa kehancuran di dunia saat ini adalah hasil dari ketidakseimbangan kedua unsur tadi, dimana unsur maskulin menguasai dan mereduksi sisi feminin dunia. Maskulin dan feminin di sini tak hanya diartikan secara sempit sebagai jenis kelamin laki-laki dan perempuan saja melainkan sebagai kedua unsur hakiki semesta yang harus dijaga keseimbangannya (Maria Mies and Vandana Shiva ”Ecofeminism”, 1993) Dalam perempuan ada sisi maskulin, juga sebaliknya. Negara juga punya sisi ini, pun korporat juga seharusnya memiliki keseimbangan ini.

Kenapa kita menyebut Bumi ini sebagai Ibu Bumi atau Mother Earth, tak lain karena lewat air, udara, dan tanahnya lah kita bisa lahir dan tumbuh, airnya ibarat susu yang kita minum sesudah kita lahir, tanah ini adalah tubuhnya yang diserahkan bagi anak-anaknya untuk dikembangkan. Tapi yang terjadi adalah kita memerkosa tubuh ibu kita sendiri, kita menghancurkan tubuh ibu kita dengan tambang, transgenik, racun kimia dan berbagai alat lainnya. Betapa durhaka kita ini. Ketidakseimbangan lah yang akhirnya tercipta.

Lewat Kartini, Hari Bumi dan Paskah lalu kita diminta untuk kembali merenungkan sudah sebodoh apa kita ini. Pendidikan yang dahulu diperjuangkan oleh Kartini, hari ini malah menjadi momok yang menakutkan bagi siswa, pendidikan jadi industri dan bukan lagi untuk membebaskan; Bumi yang telah memberi kita banyak kesempatan hidup, terus kita hancurkan, korporat hancurkan, serta negara hancurkan; dan dimanakah sikap pemaafan dan keikhlasan dalam beragama saat ini. Yesus bukan milik semata orang Nasrani, ia milik sejarah, pesannya universal tapi hari ini kita melihat manusia menghancurkan manusia yang lain, manusia mengebom manusia yang lain, jangankan musuh, bahkan saudara kita sendiri pun bisa kita bunuh. Apa lagi kata yang tepat untuk digunakan selain Kegilaan?

Mengutip apa yang dituliskan oleh Erich Fromm dalam Nur Iman Subono, 2010 di buku ”Erich Fromm: Psikologi Sosial Materialis yang Humanis” bahwa ”Kekejian hanyalah topeng untuk menutupi segala kekecutan akan eksistensi yang rapuh, tak ada pijakan. Manusia berusaha mencari keamanan di bawah berbagai keberadaan besar yang terlihat lebih kokoh -entah rezim politik, ideologi, atau yang lainnya.” Pada dasarnya manusia ini ketakutan, kekerasan terhadap bumi dan manusia lain adalah manifestasi kelemahan manusia yang kehilangan rasa aman, kehilangan pijakan hidup dan kehilangan akal sehat ketika menghadapi tekanan dari keterbatasan alam. Maka layaklah jika kita justru mengasihani para pelaku korporasi dan negara-negara yang serakah mengeksploitasi bumi.

Semakin rapuh eksistensi seseorang makin agresif lah ia maka melalui momentum tiga peristiwa ini, mari kita sama-sama berhenti sebentar, pandanglah ibu kita, belajar lah sebanyak-banyaknya dari ibu bumi, bercermin lah dari para pencinta damai yang telah tiada maupun yang masih ada di dunia ini. Mungkin kita harus menumbuhkembangkan kembali nilai-nilai feminin yang selama ini dimatikan oleh maskulinitas dunia sekitar kita, setidaknya untuk mengusahakan kita tetap seimbang, menjadi pribadi yang utuh, selalu teduh dan terang, serta terhindar dari kegilaan dunia ini. Salam damai bagi seluruh makhluk di bumi.(ll)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.