<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Lakulintang</title>
	<atom:link href="http://lakulintang.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://lakulintang.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 21 Feb 2012 01:41:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='lakulintang.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/e3f2dcef7ac7b0d741b44eeded6cf00a?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Lakulintang</title>
		<link>http://lakulintang.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://lakulintang.wordpress.com/osd.xml" title="Lakulintang" />
	<atom:link rel='hub' href='http://lakulintang.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Tak Ada Sesal</title>
		<link>http://lakulintang.wordpress.com/2012/02/21/tak-ada-sesal/</link>
		<comments>http://lakulintang.wordpress.com/2012/02/21/tak-ada-sesal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2012 01:41:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lakulintang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[cemburu]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kemarahan]]></category>
		<category><![CDATA[penyesalan]]></category>
		<category><![CDATA[tak ada sesal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lakulintang.wordpress.com/?p=222</guid>
		<description><![CDATA[“Sampeyan napa kok bisa nyangkut di sini?” tanya lelaki paruh baya berpostur kurus dan berkulit gelap dari sampingku. Kulepas genggamanku pada terali dan menengok ke arahnya, sebenarnya enggan aku menjawabnya karena tak yakin ia akan mengerti. Namun kupikir lagi aku akan berada di sini dalam waktu yang lama, mungkin tak ada salahnya mulai berteman dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lakulintang.wordpress.com&amp;blog=15194703&amp;post=222&amp;subd=lakulintang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lakulintang.files.wordpress.com/2012/02/black-men-jail-cdn-three-thefreshxpress-com.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-223" title="Ilustrasi (cdn-three.thefreshxpress.com)" src="http://lakulintang.files.wordpress.com/2012/02/black-men-jail-cdn-three-thefreshxpress-com.jpg?w=300&#038;h=262" alt="" width="300" height="262" /></a>“Sampeyan napa kok bisa nyangkut di sini?” tanya lelaki paruh baya berpostur kurus dan berkulit gelap dari sampingku.</p>
<p>Kulepas genggamanku pada terali dan menengok ke arahnya, sebenarnya enggan aku menjawabnya karena tak yakin ia akan mengerti. Namun kupikir lagi aku akan berada di sini dalam waktu yang lama, mungkin tak ada salahnya mulai berteman dan punya teman bicara. Lagipula tampaknya ia bukan orang yang punya tabiat buruk.</p>
<p>”Aku mengambil nyawa seseorang tanpa ijin pemiliknya,” jawabku pendek.</p>
<p>”Hmmm&#8230;sama kita, aku juga melakukan hal yang sama pada adikku sendiri karena ia hendak merampas kesucian anakku” katanya datar.</p>
<p>”Aku Siman,” lanjutnya sambil mengulurkan tangannya. Kusambut tangannya, dingin, dan kusebutkan namaku: ”Mangku.”</p>
<p>”Sampeyan nyesel?” tanya Siman.</p>
<p>”Nggak, sama sekali nggak. Aku puas,” jawabku tegas atas tanyanya. ”Bahkan di balik jeruji ini terasa lebih nyaman daripada aku di luar tapi harus melihat wajah dan seringai bajingan itu. Bajingan yang melecehkan keagungan seseorang yang telah memberikan segala-galanya bagi hidup si bajingan itu. Bangsat!”</p>
<p>”Pasti cewek yang sampeyan bicarakan ini dan sampeyan cinta mati sama cewe itu ya?” kejar Siman sambil menyunggingkan senyum lebar dan barisan gigi kuningnya padaku.</p>
<p>Teringatku pada Mita, Prajna Paramita, sebuah nama yang secara persis memberikan penjelasan betapa indahnya ia layaknya sang Dewi Kebijaksanaan, kematangan sempurna yang tersembunyi dalam wajah kanak-kanaknya. Nama yang benar-benar mewakili dirinya. Nama yang mampu menggetarkan diriku saat menyebutnya dalam malam-malam sepiku, nama yang selalu menghadirkan kerinduan tak terperi, nama yang akhirnya menumbuhkan ambisi terbesarku yakni memilikinya. Namun bukan itu yang ada dalam kenyataan, seseorang telah bersamanya, tak hanya bersamanya namun terikat dalam perjanjian suci di depan Sang Esa dan di depan institusi negara sialan ini.</p>
<p>Ia, bajingan itu bukan orang yang tepat, ia hanya seekor serigala yang memanfaatkan segala kelembutan dan kemurahan hati Mita, memanipulasi pribadi pemaaf itu untuk kesenangan diri dan secara pengecut berlindung di bawah ikrar suci brengsek dan selembar kertas bercap institusi negara yang layak untuk dibakar jadi abu.</p>
<p>Hari demi hari aku hanya bisa menahan amarah atas segala kisah yang tersampaikan ke aku maupun yang tak pernah terceritakan. Banyak yang tak terceritakan karena Mita khawatir aku akan melakukan hal yang tak diinginkannya, tapi aku telanjur tahu. Lebih tepatnya aku selalu mau tahu segala hal tentang Mita meski ia bersama orang lain.</p>
<p>Sampai pada suatu hari, tak tahan lagi aku melihat tangis dan kesedihan Mita. Pisau komando yang biasanya terselip di tas <em>carrier-</em>ku dan yang biasanya hanya bertugas di basahnya hutan gunung, malam itu melesak 10 cm ke ulu hati bajingan itu.</p>
<p>Teriring parau suaranya dan pandangan mata tak mengerti atas apa yang terjadi, nafas sekaratnya terdengar merdu kala mengantarnya pergi, untuk selamanya, menjauh dari Mitaku. ”Matilah kau bangsat!”</p>
<p>Di sinilah aku sekarang, dalam dingin dan lembab ruang tanpa kasur, hanya ada pesakitan yang lain, bau keringat apek, busuk lubang wc yang  menyengat dan bacinnya saluran air yang mampet. Cuma memori akan Mita yang akan menjadi satu-satunya sahabatku.</p>
<p>Aku di sini, selalu berdoa bagimu Mita, teriring rasa cinta yang besar, aku telah bebaskanmu dari neraka itu dan sekarang biarlah neraka itu jadi milikku. Nikmati surgamu. Aku tak akan pernah menyesali semuanya.</p>
<p>”Sampeyan pikir ada berapa bajingan di luar sana?” tanya Siman tiba-tiba, membuyarkan lamunanku akan Mita. ”Sampeyan pikir dengan sampean bunuh bajingan itu lalu cewek sampeyan itu akan aman, gitu?</p>
<p>“Kenapa emangnya pak,” tanyaku pula.</p>
<p>“Sampeyan tahu, anakku yang kubela setengah <em>modar</em> itu sekarang cuma jadi ciblek di alun-alun kota, kasih badannya justru buat ratusan bajingan!” dengus Siman.</p>
<p>“Atau coba sampeyan pikir, mungkin ngga kalo saat ini cewe sampeyan itu justru lagi <em>merem-melek</em> di kamar sama laki yang sama bajingannya kayak yang sampeyan bunuh itu?” lanjutnya lagi.</p>
<p>”Sampeyan bisa apa kalo itu betul-betul terjadi?!” lagi-lagi ia bersuara sinis.</p>
<p>Pertanyaan itu tak sanggup kujawab, terasa bahwa aku tak lagi sepenuhnya benar. (ll)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lakulintang.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lakulintang.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lakulintang.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lakulintang.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lakulintang.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lakulintang.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lakulintang.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lakulintang.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lakulintang.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lakulintang.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lakulintang.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lakulintang.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lakulintang.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lakulintang.wordpress.com/222/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lakulintang.wordpress.com&amp;blog=15194703&amp;post=222&amp;subd=lakulintang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lakulintang.wordpress.com/2012/02/21/tak-ada-sesal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/09fd5dfe314ec13183181962be7683fc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lakulintang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lakulintang.files.wordpress.com/2012/02/black-men-jail-cdn-three-thefreshxpress-com.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Ilustrasi (cdn-three.thefreshxpress.com)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengambilalihan Negara Gagal dan Diplomasi Nuklir</title>
		<link>http://lakulintang.wordpress.com/2011/11/02/pengambilalihan-negara-gagal-dan-diplomasi-nuklir/</link>
		<comments>http://lakulintang.wordpress.com/2011/11/02/pengambilalihan-negara-gagal-dan-diplomasi-nuklir/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Nov 2011 14:36:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lakulintang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[diplomasi nuklir]]></category>
		<category><![CDATA[hegemoni AS]]></category>
		<category><![CDATA[invasi AS]]></category>
		<category><![CDATA[negara gagal]]></category>
		<category><![CDATA[poros setan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lakulintang.wordpress.com/?p=216</guid>
		<description><![CDATA[Satu lagi negara gagal berhasil direbut, dalam skenario pengambilalihan gaya Orde Baru, Amerika Serikat dan anggota NATO lain dengan mulus menumpas semua kekuatan Qhadafi dari Libya, salah satu negara yang selama ini menjadi musuh terbesar AS. Cukup mengagetkan karena pengambilalihan ini tampak begitu mudah dan singkat, sesuatu yang tak mungkin mampu dilakukan oleh kaum pemberontak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lakulintang.wordpress.com&amp;blog=15194703&amp;post=216&amp;subd=lakulintang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_217" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><a href="http://lakulintang.files.wordpress.com/2011/11/iranreviewdotorg1.jpg"><img class="size-full wp-image-217" title="Ilustrasi (iranreview.org)" src="http://lakulintang.files.wordpress.com/2011/11/iranreviewdotorg1.jpg?w=450" alt="Ilustrasi (iranreview.org)"   /></a><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (iranreview.org)</p></div>
<p>Satu lagi negara gagal berhasil direbut, dalam skenario pengambilalihan gaya Orde Baru, Amerika Serikat dan anggota NATO lain dengan mulus menumpas semua kekuatan Qhadafi dari Libya, salah satu negara yang selama ini menjadi musuh terbesar AS. Cukup mengagetkan karena pengambilalihan ini tampak begitu mudah dan singkat, sesuatu yang tak mungkin mampu dilakukan oleh kaum pemberontak Libya tanpa kontribusi besar AS dan NATO. Pola yang sama juga dialami belum lama semasa Saddam Hussein yang harus tewas secara memalukan, di tiang penghinaan di depan rakyatnya sendiri. Hal ini adalah perulangan yang kesekian kali jika kita melihat cerminan sama di Indonesia saat Orde Baru yang menjadi kepanjangan tangan AS mengambil alih kekuasaan secara militer dan melakukan <em>tumpes kelor</em> terhadap jutaan kaum komunis dan simpatisannya. Secara tidak langsung, jika kita mensyukuri apa yang terjadi pada Qhadafi atau Saddam maka kita pun juga mengamini pola pembantaian yang dilakukan Orba terhadap saudara-saudara kita sendiri. Maka pantaskah jika kita ikut bersyukur atau gembira atas keberhasilan revolusi Libya itu? Jika Anda memilih untuk tidak maka saya akan menjadi orang yang sependapat dengan Anda.</p>
<p>Lalu kenapa saya menggunakan istilah Negara gagal pada judul tulisan ini? Istilah ini dapat ditemukan definisinya di kamus politik manapun yang secara garis besarnya menunjuk pada sebuah negara yang kehilangan kemampuan untuk melindungi warganya dari ancaman terhadap martabat dan kehidupan kemanusiaan mereka dan tidak mampu memberikan hak-hak sipil yang mendasar bagi rakyatnya. Namun mengutip konsep Clinton pada tahun 1994, AS memiliki konsepsinya sendiri  bahwa negara gagal adalah  “negara yang punya potensi mengancam diri kita (warga AS dan sahabat) maka kita harus melindungi diri dari negara ini, jika perlu dengan cara menghancurkan mereka.” Konsep tersebut saat ini bertransformasi dari “negara gagal” ke “axis of evil” atau “poros setan”  yakni negara-negara yang harus dihancurkan dalam kerangka “membela diri.” Konsep inilah yang dikhawatirkan memicu meningkatnya ancaman terorisme, proliferasi nuklir dan -istilah yang digunakan Chomsky adalah- “Apocalypse soon” atau “Akhir Dunia.” (Chomsky, “Failed States: The Abuse of Power and the Assault on Democracy”2006. p.108)</p>
<p>Dengan justifikasi sepihak atas interpretasi konsep di atas maka suatu negara dapat dinyatakan sebagai negara yang membutuhkan campur tangan dan peran besar dari negara lain yang lebih kuat. Alasan terbesarnya adalah untuk melindungi rakyat dari tragedi kemanusiaan. Suatu konsep politik yang baik namun mari kita cermati kembali. Terdapat standar ganda dalam menerapkan suatu intervensi pada suatu  negara. Dengan cepat AS dengan NATO sebagai instrumennya dapat terlibat di Kuwait, Afghanistan, Irak, dan Libya sementara itu secara kontras tampak enggan untuk melibatkan diri dalam kancah krisis kemanusiaan di negara seperti Sudan,Liberia, Togo, Somalia atau Korea Utara. Apa yang membedakannya kemudian, bagi awam seperti saya mungkin akan muncul sebuah jawaban sederhana yakni karena negara-negara Afrika dan Asia  tersebut tidak menghasilkan  minyak atau keuntungan strategis lain dalam kacamata perluasan kekuasaan ekonomi-militer AS.</p>
<p>Maka bagi negera-negara gagal tersebut tak ada pilihan lain selain menjadikan negara mereka bercorak despotik dan represif serta sangat protektif dalam kebijakan keamanan luar negerinya. Ambil contoh Cina yang tetap mengambil sikap tegas jika menyangkut Taiwan, Iran yang tetap menolak Traktat Anti-proliferasi Nuklir jika AS tidak menandatanganinya juga, dan yang paling ekstrim adalah Kim Jong Il yang memilih menjadikan negaranya tertutup total dari informasi serta intervensi asing, plus masih ada satu lagi yakni mengembangkan rudal balistik antar benua berhulu ledak nuklir. Satu alasan alasan lain kenapa AS atau NATO tidak berani mengambil langkah gegabah pada negara-negara “keras kepala”  tersebut adalah kepemilikan senjata nuklir. Diakui atau tidak kepemilikan nuklir menjadikan diplomasi luar negeri sama kuat di wahana internasional seperti PBB. AS tidak bisa mengancam Iran atau Korea Utara untuk menyerahkan kekuasaan atau menggalang kekuatan revolusi karena jika ada indikasi infiltrasi AS ke negara mereka maka tombol peluncur hulu ledak nuklir antar benua dapat segera ditekan dan AS tak mau mengambil risiko itu meskipun secara faktual AS dan Israel adalah negara pemilik hulu ledak nuklir terbesar di dunia (dan keduanya tak bersedia menandatangani Traktat Anti-proliferasi Nuklir).</p>
<p>Jadi jika melihat situasinya saat ini, ada situasi <em>fight evil with evil</em> atau kejahatan melawan kejahatan. Kita tahu Saddam, Qhadafi, Bassar Asad, Ahmadinejad, Kim, bahkan Chavez menerapkan kebijakan yang menurut cara pandang barat maupun akademis tidaklah demokratis. Secara personal para pemimpin di atas mendapat label “madman” atau “penjahat kemanusiaan” yang  tentu saja dilabelkan secara besar-besaran oleh media AS dan Eropa, seolah AS sedang dalam misi menyelamatkan umat manusia dari angkara murka.  Namun dalam kacamata keamanan dalam negeri, penerapan demokrasi justru akan menghancurkan fondasi negara dan dengan mudah AS dan sekutunya dapat  mengambil alih segala aset mereka dan meninggalkan penduduknya dalam kesengsaraan, ambil contoh terdekat adalah Irak dan Afghanistan. Kedua negara ini secara <em>de facto</em> hanyalah boneka AS dimana pemerintahan oposisinya harus tunduk pada kebijakan ekonomi AS atau lewat lembaga keuangan internasional untuk mengelola negaranya, termasuk dalam hal ini adalah konsesi minyak yang tidak adil, pengembalian hutang perang dan mencabut semua bentuk subsidi/dana sosial bagi masyarakatnya. Ditambah lagi, kedua negara tersebut sampai saat ini tercerai berai oleh keragaman suku dan kaukus politik sektarian yang tak jarang berujung pada kekerasan antar warga negara mereka sendiri.</p>
<p>Tentu saja kisah komikal ini tak sesederhana itu jika kita mencermatinya dari banyak perspektif. Selama ini premis yang sering digunakan oleh AS dalam melaksanakan operasi militer ilegalnya adalah pencegahan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh negara gagal tersebut. Namun ternyata terdapat beberapa karakter atau prasyarat yang dijadikan AS dalam mendorong perubahan kekuasaan karena AS tak akan ambil risiko untuk melakukan serangan militer. Prasyarat-prayarat tersebut adalah:</p>
<ol start="1">
<li>Suatu negara betul-betul tak memiliki tameng pertahanan</li>
<li>Harus memiliki arti atau posisi penting serta sepadan dengan kekacauan yang akan ditimbulkan.</li>
<li>Harus sudah ada gambaran pada dunia internasional bahwa negara tersebut adalah “biang iblis” dan menjadi suatu ancaman bagi kehidupan dunia. (Chomsky, “Hegemony or Survival,” 2003. p.17)</li>
</ol>
<p>Dalam perspektif Naomi Klein dalam Shock Doctrine (2007), kondisi inilah yang menjadi impian atau yang ditunggu-tunggu bagi AS untuk melaksanakan tugas ekspansi militer ekonominya. Ketika negara gagal telah betul-betul lumpuh dan kehilangan kendali, AS akan mengambil alihnya. Gampangnya, formulasinya adalah” Lumpuhkan dan Kuasai” dan biasanya menggunakan elemen berjudul pemerintahan demokratis. Sebuah agenda politik dipercepat, jika sebelumnya Suriah adalah target awal penaklukan namun melihat kritisnya dan begitu mendukungnya situasi politik Libya untuk menyingkirkan Qadhafi maka Libya lah yang dijadikan target prioritas. Ini cukup aneh karena selama ini Libya mendukung AS dalam misi pengejarannya terhadap jaringan Al Qaeda. Namun bukan berarti Suriah bisa berlega hati, Suriah tetap dalam <em>black list</em> “negara setan”, dan jika melihat <em>success story</em> di Libya maka Suriahpun terasa akan segera dalam genggaman.</p>
<p>Dalam kenyataan hari ini, ada ironi besar, dunia membutuhkan “orang jahat” tadi karena dunia membutuhkan keseimbangan. Pasca perang dingin, otomatis hanya AS-lah negara yang menguasai dunia tanpa ada lawan yang setara. Tak ada lagi kubu Komunis yang kuat seperti di masa lalu, tak ada lagi kekuatan regional yang cukup kuat yang bisa dijadikan tameng bersama menghadapi kerakusan AS dalam menanam kekuasaan kapitalisnya.Tak ada lagi Liga Arab yang solid karena beberapa negara di Arab telah berada dalam kooptasi AS seperti Arab Saudi dan Jordania. Sehingga pada akhirnya diakui bahwa masing-masing negara harus mempertahankan diri mereka masing-masing, dan demokrasi jelas pilihan yang sulit, apalagi jika hendak terlibat dalam pakta kerjasama ekonomi, jelas bukan pilihan yang tidak berisiko.</p>
<p>Maka dari uraian singkat di atas tampak dengan jelas relasi antara usaha  pengambilalihan negara-negara gagal dengan reaksi negara gagal tersebut untuk mempertahankan diri. Kebijakan antidemokrasi dikembangkan secara masif, dan yang paling menakutkan adalah pengembangan senjata nuklir menjadi pilihan yang masuk akal. Sesuatu yang juga ditakutkan oleh seluruh umat manusia di dunia. Nuklir adalah buruk bagaimanapun, namun diakui efektif digunakan sebagai <em>back up</em> diplomasi, itu fakta yang menggetirkan dalam situasi dunia yang kacau oleh dominasi AS saat ini. Contoh lain betapa efektifnya diplomasi luar negeri dengan senjata nuklir adalah Korea Utara, PBB tak mampu mengusik Kim Jong Il sampai saat ini meski praktek demokrasi di Korut telah mencapai titik nadir. Contoh lain yang dapat kita lihat adalah Indonesia sendiri, dengan hanya mengandalkan kekuatan militer dan alutsista jaman kuno, Malaysia tak takut sama sekali untuk memamerkan kekuatan militernya dalam konflik kepulauan di perbatasan Indonesia-Malaysia. Fakta yang menyakitkan memang, tapi harus diakui bahwa ini bukan kisah komik yang bercerita tentang kekuatan hitam melawan putih. Konstelasi internasional telah memasuki awal era semua melawan semua, dan pertahanan diri masing-masing negara adalah jawaban yang tersedia.</p>
<p>Selama PBB masih merupakan institusi yang tak bergigi di depan AS dalam mewujudkan perdamaian dunia maka dunia  akan berjalan menuju kekacauan dan ketidakteraturan, dan wajar saja jika selama ini ada ejekan bahwa lebih tepat memberikan kepanjangan UN sebagai <em>United Nothing</em>! (ll)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lakulintang.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lakulintang.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lakulintang.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lakulintang.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lakulintang.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lakulintang.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lakulintang.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lakulintang.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lakulintang.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lakulintang.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lakulintang.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lakulintang.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lakulintang.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lakulintang.wordpress.com/216/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lakulintang.wordpress.com&amp;blog=15194703&amp;post=216&amp;subd=lakulintang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lakulintang.wordpress.com/2011/11/02/pengambilalihan-negara-gagal-dan-diplomasi-nuklir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/09fd5dfe314ec13183181962be7683fc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lakulintang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lakulintang.files.wordpress.com/2011/11/iranreviewdotorg1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ilustrasi (iranreview.org)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keping Senja yang Tersisa</title>
		<link>http://lakulintang.wordpress.com/2011/10/31/keping-senja-yang-tersisa/</link>
		<comments>http://lakulintang.wordpress.com/2011/10/31/keping-senja-yang-tersisa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2011 02:08:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lakulintang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[cerita cinta]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[cinta abadi]]></category>
		<category><![CDATA[kehilangan]]></category>
		<category><![CDATA[keping senja]]></category>
		<category><![CDATA[perpisahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lakulintang.wordpress.com/?p=209</guid>
		<description><![CDATA[Sore itu, sepasang manusia berdiri di tepian tebing sementara di bawah mereka, sebuah jeram curam dengan busa air yang menggelora berwarna putih mengalir deras menampar, melintasi tikungan dan batuan penghalangnya. Kembali ke atas sana, tak ada suara kecuali suara dari gesekan dedaunan yang didorong oleh angin yang berlari cepat kala itu. Ada hening yang panjang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lakulintang.wordpress.com&amp;blog=15194703&amp;post=209&amp;subd=lakulintang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_210" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://lakulintang.files.wordpress.com/2011/10/every-cloud-has-a-silver-lining-by-ebsqartdotcom.jpg"><img class="size-medium wp-image-210" title="Ilustrasi (ebsqart.com)" src="http://lakulintang.files.wordpress.com/2011/10/every-cloud-has-a-silver-lining-by-ebsqartdotcom.jpg?w=300&#038;h=288" alt="Ilustrasi (ebsqart.com)" width="300" height="288" /></a><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (ebsqart.com)</p></div>
<p>Sore itu, sepasang manusia berdiri di tepian tebing sementara di bawah mereka, sebuah jeram curam dengan busa air yang menggelora berwarna putih mengalir deras menampar, melintasi tikungan dan batuan penghalangnya. Kembali ke atas sana, tak ada suara kecuali suara dari gesekan dedaunan yang didorong oleh angin yang berlari cepat kala itu. Ada hening yang panjang merantai mereka berdua, sampai akhirnya terdengar suara seorang lelaki, berambut panjang, lurus, dengan mata yang nyaris kosong.</p>
<p>“Saat ini kuingin sekali rasanya membunuhmu, mendorongmu ke kedalaman air itu dan membiarkanmu menghilang disana. Lalu akan akan menyusulmu memasuki kegelapan itu” ucap Frans.</p>
<p>Sesaat Neda terperanjat, biji matanya membulat selama sepersekian detik lalu bertanya balik. “Apa maksudmu Frans?” tukasnya.</p>
<p>”Kupikir itu satu-satunya cara agar aku tak akan kehilanganmu, satu-satunya cara agar aku tetap akan bersamamu, itulah cara yang tersisa agar tak ada lagi orang lain yang akan bersamamu.” jawab Frans. Suaranya terdengar menyandang emosi yang begitu dalam.</p>
<p>“Kenapa kau begitu berlebihan menghadapi perpisahan ini, aku tetap bersamamu meski tak lagi hadir di dekatmu dan suatu hari jika berjodoh kita pasti akan bertemu kembalikan?” jawab Neda lagi, tampak jauh lebih tegar daripada lelaki itu, lebih matang, dan yang pasti lebih bisa menguasai emosinya.</p>
<p>“Apa lagi yang dimiliki seorang lelaki frustrasi selain perasaannya yang terdalam, selama ini kutekan semua itu, kupaksakan semua kegembiraanku hadir di atas kegetiran ini. Semua mampu kutanggung namun itu semata karena kau masih ada di sini, di hadapanku, di sampingku. Aku bisa memelukmu dan membisikkan semua isi hatiku di telingamu, namun beberapa saat lagi yang tersisa cuma hati yang kering, kalbu yang sepi, otak yang berbicara sendiri dengan heningnya jiwaku di dalam sini” lanjut Frans.</p>
<p>“Frans, aku tak suka melihatmu jadi secengeng dan senegatif ini, kau seorang laki-laki tegar, petarung yang gigih, seseorang yang selalu menjadi sandaranku selama ini karena kau seorang yang kuat, bukan begini!” timpal Neda dengan jengah.</p>
<p>“Bila kau pergi seorang diri, aku masih bisa yakin bahwa kita akan kembali bertemu dan bisa bersama, namun kau tak sendiri, ada orang lain yang punya banyak kesempatan untuk menumbuhkan benih-benih kecintaanmu sementara aku tak punya apapun yang bisa kuberikan padamu selain segala ungkapan hatiku yang jujur selama ini, segala omong kosong  tentang cinta yang tak pernah mati, serta tumpukan memori indah yang mungkin segera akan kau lupakan Ned?” kelu nada Frans tersampaikan pada mega-mega senja itu. Neda masih terdiam namun matanya tampak menyala.</p>
<p>“Tidak kah kau akan segera lupakan aku, tak perlu kau bersusah payah untuk menghindari rasa itu karena toh tak akan ada lagi petani yang menyirami tanah bernama kerinduan itu. Aku akan pudar, luntur, dan tanpa kau sadari aku sudah tak ada lagi. Tidak kah itu akan terjadi Ned?” lanjut Frans.</p>
<p>“Aku sendiri tak tahu apa yang akan terjadi kemudian Frans, mungkin aku akan memilih melupakan semuanya, dengan begitu aku tak akan merasakan kepedihan itu. Kau mungkin benar, tak ada gunanya janji-janji kuucapkan padamu saat ini jika mungkin aku akan mengingkarinya nanti” suara Neda terdengar tertahan kali ini, menahan gulana yang berputar-putar dalam hatinya.</p>
<p>“Jadi benar aku akan hilang?” tanya Frans.</p>
<p>”Mungkin, namun setidaknya aku akan ingat bahwa aku pernah dicintai dan memiliki seseorang yang meski tak pernah mendekapnya dengan ragaku, namun ia memiliki sebagian dari keping hatiku” kata-kata Neda meluncur bersama munculnya kaca-kaca bening di matanya.</p>
<p>Mega senja itu berjalan cepat terdorong oleh hembusan angin yang terasa kuat, melemparkan setiap helai rambut dua manusia ke segala arah namun tak ada tangan yang bergerak untuk menatanya kembali. Kedua manusia itu cuma berhadapan namun pandangan mata mereka menatap ke arah yang berbeda. Sesekali mata mereka bertubruk pandang, untuk sebentar kemudian saling melempar tatapan ke arah yang lain. Tampaknya kata-kata sudah basi bagi mereka, tak ada lagi yang perlu disampaikan.</p>
<p>Angin berhembus makin kencang, lembar-lembar daun bambu beterbangan ke tengah sungai, mendarat dan mengapung bagai rakit-rakit kecil di samudra untuk kemudian mengalir cepat menuju hilir. Kedua manusia itu masih di sana, diam dan tanpa suara, tampaknya masing-masing mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan kalimat penutup.</p>
<p>Setelah sekian lama keheningan itu berjalan, Frans akhirnya kembali membuka mulutnya.</p>
<p>”Terimakasih Ned karena kau ijinkan aku menyayangimu selama ini, terimakasih atas semua yang telah kau bagi, selamat jalan dan seperti yang pernah kuucapkan, kau akan selalu di hatiku” lemah baris kata itu terucap dari bibir Frans. Dikembangkan tangannya untuk menarik tubuh Neda ke dekapannya, mendekap dengan erat seakan itu adalah kesempatan terakhir yang tersisa, mendekap segala sumber kebahagiaannya yang sebentar lagi akan hilang dari sisinya. Tumpah segala emosi Frans di harumnya rambut Neda yang cuma diam namun tampak bibirnya bergetar.</p>
<p>Akhirnya Frans melepaskan dekapannya, tak mengharap Neda memberikan balas atas dekapnya sementara itu, jauh di dalam hatinya, Neda seakan terlempar-lempar dalam sebuah gelembung dari satu sisi ke sisi yang lain, limbung antara menghadapi kenyataan yang terima saat ini dan mencoba lari ke kenyataan yang lain, hati yang lain yang juga ia miliki.</p>
<p>Tampaknya tirai senja itu akan ditutup dan gelap akan segera melanjutkan tugasnya namun ternyata Neda tak bisa membiarkan kegelapan menjadi pemenang. Dipandangnya kembali mata Frans dengan kaca-kaca bening itu, tanpa Frans sempat menyadari kedalaman mata Neda, kedua lengan Neda telah bergerak cepat ke belakang kepalanya, mendorong kepala itu ke depan dimana bibir Neda telah lebih dulu bergerak menuju bibirnya.</p>
<p>”Aku menyayangimu Frans, dengan caraku, sebisaku. Maafkan aku” ujar Neda dengan cepat sesaat setelah melepaskan ciumannya di bibir Frans yang tampak masih tak percaya, hangat bibir itu belum hilang rasanya.</p>
<p>”Sekarang, tolong antarkan aku pulang, banyak yang harus kusiapkan untuk keberangkatanku besok.” lanjut Neda.</p>
<p>”Baiklah,” balas Frans, dan sekali lagi memeluk erat tubuh Neda dan memberikan senyumnya yang getir. Sudah gelap saat itu namun Neda tahu Frans tersenyum dalam tangisnya, begitu juga dirinya.(ll)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lakulintang.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lakulintang.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lakulintang.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lakulintang.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lakulintang.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lakulintang.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lakulintang.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lakulintang.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lakulintang.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lakulintang.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lakulintang.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lakulintang.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lakulintang.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lakulintang.wordpress.com/209/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lakulintang.wordpress.com&amp;blog=15194703&amp;post=209&amp;subd=lakulintang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lakulintang.wordpress.com/2011/10/31/keping-senja-yang-tersisa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/09fd5dfe314ec13183181962be7683fc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lakulintang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lakulintang.files.wordpress.com/2011/10/every-cloud-has-a-silver-lining-by-ebsqartdotcom.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Ilustrasi (ebsqart.com)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hari Terindah Milik Kinar</title>
		<link>http://lakulintang.wordpress.com/2011/10/07/hari-terindah-milik-kinar/</link>
		<comments>http://lakulintang.wordpress.com/2011/10/07/hari-terindah-milik-kinar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Oct 2011 03:44:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lakulintang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[hari yang indah]]></category>
		<category><![CDATA[kesetiaan]]></category>
		<category><![CDATA[menikmati kebahagiaan kecil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lakulintang.wordpress.com/?p=205</guid>
		<description><![CDATA[Hari masih sangat muda, jalanan masih lengang. Seorang laki-laki paruh baya berjalan terpincang-pincang menyusuri trotoar jalanan yang sebagian besar telah rusak dan tampaknya telah bertahun-tahun tak pernah diperbaiki. Terlihat akar tanaman yang telah menggelembung besar di beberapa tempat menyingkap blok-blok trotoar dengan seronok di sana-sini. Tapi meskipun terpincang, jalan itu tak tampak mengganggunya. Matanya menatap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lakulintang.wordpress.com&amp;blog=15194703&amp;post=205&amp;subd=lakulintang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_206" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://lakulintang.files.wordpress.com/2011/10/dari-redcheekinda-wordpress-com.jpg"><img class="size-medium wp-image-206" title="Ilustrasi (redcheekinda.wordpress.com)" src="http://lakulintang.files.wordpress.com/2011/10/dari-redcheekinda-wordpress-com.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Ilustrasi (redcheekinda.wordpress.com)" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (redcheekinda.wordpress.com)</p></div>
<p>Hari masih sangat muda, jalanan masih lengang. Seorang laki-laki paruh baya berjalan terpincang-pincang menyusuri trotoar jalanan yang sebagian besar telah rusak dan tampaknya telah bertahun-tahun tak pernah diperbaiki. Terlihat akar tanaman yang telah menggelembung besar di beberapa tempat menyingkap blok-blok trotoar dengan seronok di sana-sini. Tapi meskipun terpincang, jalan itu tak tampak mengganggunya. Matanya menatap lurus ke depan, mata yang terpasang di sebuah wajah persegi dengan carut di pipi, bibirnya mengatup menampakkan garis rahang yang kaku dan menakutkan.</p>
<p>Wajah laki-laki itu terbentuk dari tumpukan debu jalanan selama bertahun-tahun dan menghitam oleh darah dan keringat lawan-lawannya. Bahunya lebar dan tegak, seakan menjadi bingkai baja bagi bangunan postur tubuhnya yang keras dan liat. Namun ada cacat pada dirinya, kakinya merupakan bagian menyedihkan, sebelah kakinya adalah palsu, itulah yang membuat ia terpincang-pincang. Sebuah besi pemukul telah menghancurkan lutut dan tulang keringnya pada sebuah pertempuran jalanan di masa lalu, memaksanya kehilangan sebagian kekuatan fisiknya sebagai penguasa jalanan, bahkan kejayaannya sirna dalam hitungan hari. Hari ini, ia hanyalah seorang laki-laki yang menua dengan cepat, pecundang, begitu yang orang pikir jika melihatnya berjalan terpincang di sepanjang trotoar.</p>
<p>Memasuki sebuah gang kotor, anyir dan sempit, ia tak mengubah parasnya, sesekali dagunya terangkat dan bibirnya ditarik kecil ketika berpapasan dengan beberapa pemuda yang menganggukkan kepalanya sambil mengucap “..mas,”  demikian juga ketika menanggapi beberapa orang seusianya yang menyapa, tak  banyak kata selain “yuk”, “mari” atau hanya gerakan mengangkat alis.Tak ada yang cukup berani bertanya “dari mana” atau “ke mana,” semua seakan tahu jika wajahnya tegang seperti itu berarti habis kalah main, jadi tidak usah tanya-tanya. Biarkan ia lurus, berlalu, dan hilang di sebuah rumah gelap dan sempit di ujung gang.</p>
<p>Ya ampun, siapa perempuan tua buruk ini, kenapa ia selalu ada di rumah ini, siapa yang sudi melihatnya. Sebuah tubuh kering, rambut kusut masai belum disisir, daster yang dikenakan telah sobek sana-sini, kutang kumal yang tak kalah usang tampak mengintip dari sobekan dasternya, menjijikkan sekali. Sama menyedihkan dengan penampilan lelaki itu, tapi perempuan itu menyambutnya dengan sebuah senyum tercampur kantuk.</p>
<p>“Mau kopi mas, atau teh?” tanya perempuan itu.</p>
<p>Sadewa cuma menjawab pendek: “kopi.” Ia langsung menuju kamar, melepas jaket kumalnya, merebahkan diri sebentar di tempat tidur tanpa kasur, lalu bangkit lagi dan keluar ke ruang makan yang sekaligus ruang keluarga, ruang dapur dan gudang karena hanya ruang agak luas itu yang ada selain dua kamar tidur sempit mereka. Sadewa duduk di dekat meja di mana segelas kopi tubruk dengan kepulan asap sudah tersedia di sana. Diseruputnya tiap tetes kopi dengan nikmat, selalu terdengar ‘ahh’ tiap kali kopi itu melewati kerongkongannya.</p>
<p>Seseorang mengamatinya dari jarak tertentu, perempuan menyedihkan tadi, istri Sadewa. “Lelaki itu&#8230;, ia tampak begitu gagah, begitu kuat, seorang lelaki yang luar biasa. Tak sedikitpun ada penyesalan harus mendampinginya selama ini meski harus tersuruk bagai kotoran di gang bau dan kandang sapi ini,” pikiran Kinar nyalang.</p>
<p>Sadewa mengangkat gelas kopinya, membawanya keluar sembari menarik sebungkus kretek murahan dari kantong celana dan menyulut sebatang rokok yang terselip di antara bibirnya. Di mata Kinar, adegan itu sangat indah, terpapar bagai gerakan lambat, apalagi ketika Sadewa berdiri tegak, mata tajam ke depan, tak tampak cacat pincangnya, sembari membusungkan dada dan bahu bidangnya saat menarik asap ke dadanya dengan sangat mengesankan.</p>
<p>“Ia orang yang kucintai, sampai kapanpun aku akan melayaninya bahkan jika harus mengorbankan diriku sendiri. Laki-laki ini lah yang pernah bisa membuatku melambung ke langit, sementara yang lain tak bisa,” Kinar masih bergumam dalam lamunannya.</p>
<p>“Ngapain Bu?” sebuah suara membuyarkan lamunan Kinar.</p>
<p>“Ah ngga, ngga papa,” tergagap Kinar menjawab cepat pertanyaan spontan anak tertuanya Winda, gadis berusia 14 tahun yang baru bangun.</p>
<p>“Sana langsung mandi dan siap-siap sekolah, eh jangan lupa bangunkan Rinda!” perintah Kinar ke Winda yang berjalan menuju Sadewa di luar.</p>
<p>“Pak, minta duit dong, aku harus bayar les tambahan hari ini!” pinta Winda, langsung ke pokok persoalan.</p>
<p>“He anak setan&#8230;salam dulu kek, langsung minta duit aja!” balas Sadewa.</p>
<p>“Anak preman kok pake salam, beda kalo aku nih anak ustadz, mana pak 40.000-nya?”cecar Winda lagi, tak peduli akan ketusnya nada suara Sadewa.</p>
<p>Sadewa menghela nafas, namun memaksa tersenyum dan dengan telunjuknya menyuruh Winda masuk.</p>
<p>“Kau dengar tadi ibumu bilang apa, bangunkan dulu adikmu sana lalu kamu mandi dulu, bapak mau lihat dulu duit bapak ada nggak&#8230;,” lanjutnya.</p>
<p>Dari seberang ruang, mata Kinar mengamati semua adegan dan dialog ayah-anak itu, berbunga-bunga hatinya ketika mendengar Sadewa menyebutnya. Lebih berbunga lagi melihat mata Sadewa ketika bicara dengan Winda, binar mata yang sama yang dulu muncul ketika Sadewa begitu memujanya. Mata yang membuatnya rela pergi bersama preman itu dan  meninggalkan rumah orangtuanya yang nyaman. Mata yang memberi rasa aman, mata yang bisa dipercaya, mata yang tak bisa berbohong, mata yang berisi pancaran cinta yang tulus.</p>
<p>Sadewa merogoh kantong celananya, sebuah lipatan kertas tertarik, ia tahu persis berapa jumlahnya, 50.000 rupiah. Jumlah yang sengaja ia selamatkan dari taruhan di meja bilyar tadi malam, jumlah yang ia pikirkan cukup bagi makan mereka hari ini.</p>
<p>“Nar, sana belanja sayur dan lauk 10.000 untuk makan kalian hari ini, sisanya buat Winda, dia perlu 40.000 untuk lesnya!” perintahnya pada sang istri yang sedari tadi memang mengikuti semua dengan tatapan matanya.</p>
<p>Diambilnya uang itu dari ujung jari Sadewa dan bergerak keluar.</p>
<p>Udara luar membelai sejuk wajahnya yang belum terkena air.</p>
<p>Hari ini adalah hari yang indah bagi Kinar, langkahnya seringan kapas, paling tidak ada uang untuk membayar hutangnya kemarin ke warung, dan dengan begitu ia bisa berhutang sayur lagi untuk makan hari ini, sedangkan masalah Winda dengan mudah terpecahkan. “Ah betapa beruntungnya aku, betapa indah hari ini, dan ini masih pagi. Ya Tuhan terimakasih, terimakasih.” (ll)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lakulintang.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lakulintang.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lakulintang.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lakulintang.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lakulintang.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lakulintang.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lakulintang.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lakulintang.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lakulintang.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lakulintang.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lakulintang.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lakulintang.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lakulintang.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lakulintang.wordpress.com/205/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lakulintang.wordpress.com&amp;blog=15194703&amp;post=205&amp;subd=lakulintang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lakulintang.wordpress.com/2011/10/07/hari-terindah-milik-kinar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/09fd5dfe314ec13183181962be7683fc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lakulintang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lakulintang.files.wordpress.com/2011/10/dari-redcheekinda-wordpress-com.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Ilustrasi (redcheekinda.wordpress.com)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Kerinduan dan Kehilangan</title>
		<link>http://lakulintang.wordpress.com/2011/10/04/tentang-kerinduan-dan-kehilangan/</link>
		<comments>http://lakulintang.wordpress.com/2011/10/04/tentang-kerinduan-dan-kehilangan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Oct 2011 07:23:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lakulintang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[cinta tak pernah meminta banyak]]></category>
		<category><![CDATA[kerinduan]]></category>
		<category><![CDATA[mencintai dengan sederhana]]></category>
		<category><![CDATA[penyesalan]]></category>
		<category><![CDATA[persahatan]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lakulintang.wordpress.com/?p=200</guid>
		<description><![CDATA[“Kamu membuatku takut Des,” begitu kata Alice padaku hari itu. Sayang aku tak bisa menatap matanya sehinggga tak mampu menggali ke dalam jiwa perempuan itu saat mengatakannya, lewat barisan kata itu kucoba meraih arti di baliknya. Yang aku tahu, ia kecewa, sangat kecewa padaku. “Terserah apa yang kau mau sekarang, aku bahkan terlalu takut untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lakulintang.wordpress.com&amp;blog=15194703&amp;post=200&amp;subd=lakulintang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_201" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://lakulintang.files.wordpress.com/2011/10/roots_of_emotion_by_dimentichisi.jpg"><img class="size-medium wp-image-201" title="Ilustrasi (Roots of Emotion by Dimentichisi)" src="http://lakulintang.files.wordpress.com/2011/10/roots_of_emotion_by_dimentichisi.jpg?w=300&#038;h=240" alt="Ilustrasi (Roots of Emotion by Dimentichisi)" width="300" height="240" /></a><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (Roots of Emotion by Dimentichisi)</p></div>
<p>“Kamu membuatku takut Des,” begitu kata Alice padaku hari itu. Sayang aku tak bisa menatap matanya sehinggga tak mampu menggali ke dalam jiwa perempuan itu saat mengatakannya, lewat barisan kata itu kucoba meraih arti di baliknya. Yang aku tahu, ia kecewa, sangat kecewa padaku.</p>
<p>“Terserah apa yang kau mau sekarang, aku bahkan terlalu takut untuk bertemu kembali denganmu!” lanjut Alice masih dalam rentetan kecewanya. Kata-katanya meluncur, menghunjam keras, dan menyudutkanku dalam kelu. Ada rasa bersalah dalam diri ini, tak berdaya dan tiba-tiba merasa menjadi laki-laki paling bodoh yang pernah diciptakan. Tak hendak aku membela diri, tak ada kebanggaan yang tersisa ketika perempuan yang kukasihi itu tersakiti oleh hadirku. Yang tersisa hanyalah sesal dan perasaan takut akan kehilangan, ribuan jiwa seolah mengutukku saat itu, seorang bebal dan manusia tolol yang tak mengerti juga akan makna cinta yang tulus.</p>
<p>Ia masih di sana, ada di depanku namun tampak tak lagi sama, ia orang yang tersakiti sekarang. Senyum itu masih ada tapi serasa tak lagi bagiku, senyum menawan yang selama ini menghuni relung rinduku namun saat ini justru menyayat bagai sembilu ketika aku tahu ia tak sama lagi seperti hari kemarin. Atau sebenarnya ia tetap pribadi yang sama, hanya mata pikirku yang sekarang berubah. Mata yang baru saja dibukakan pada makna ketulusan cinta, namun sayangnya aku tak bisa mengulang roda waktu dan menghapus satu hari buruk itu. Semua telanjur terjadi. Begitu mudah kesalahan terjadi sementara begitu lama untuk menumbuhkannya.</p>
<p>Untaian ungkapan sesal hanya bisa kusampaikan semata pada samudra yang bergolak di depanku namun sama seperti Alice ia pun tak menyediakan jawaban. Tanya dan curahan perasaanku hanya dibalas oleh pertanyaan yang sama. ”Lakukan dengan benar! Sekarang terserah apa yang hendak kau lakukan dan silakan merengek dalam kemasan bernama maaf itu!” seolah itu yang dikatakan oleh hempasan ombak padaku.</p>
<p>Terlalu banyak yang hendak kutanyakan namun semakin banyak pula pertanyaan yang diberikan samudra padaku. Lalu siapa lagi yang bisa kumintakan jalan? Bagaimana seseorang yang salah mencari pendapat yang akan memberikan pembelaan padanya, siapa sudi menemani orang yang telah cacat? Haruskah kuhadirkan Tuhan sebagai pembelaku sementara aku telah lama meninggalkannya? Kuakui hanya ia yang sekarang bisa kuhadirkan, paling tidak untuk menemaniku menatap cakrawala.</p>
<p>Garis horizon tampak di kejauhan menaburkan warna kelabu dan perak yang menyilaukan, sebuah sosok kapal layar putih dengan tiang ganda muncul sesaat untuk kemudian hilang kembali, jatuh di ujung bumi paling selatan. Akankah Alice juga akan hilang di cakrawala seperti sosok kapal itu? Akankah maaf tak akan terucap dari bibirnya atas salahku ini?</p>
<p>Aku begitu merindukan Alice saat ia tak berada di sisiku namun saat ia di dekatku justru aku lebih sering menyakitinya. Kususuri sisi kelam pikiranku dan kutemukan bahwa semua disebabkan oleh sesatnya pikirku, butanya perasaaanku atas kenyataan yang kuhadapi bahwa ia begitu bersahaja dalam mengasihiku sementara aku menginginkan lebih, aku menuntut terlalu banyak, aku memanipulasinya bagiku sendiri. Ya langit, ya bintang-bintang ampuni aku yang tak juga mengerti betapa sederhananya cinta itu? Ingin kubicara dengan Sapardi saat ini untuk menemukan arti bagaimana cara mencintai dengan sederhana, bertanya padanya kenapa aku tak bisa menjadi kayu yang seharusnya berterimakasih pada api meskipun telah menjadikannya abu?</p>
<p>Semua hancur berantakan ketika aku menginginkan hadirnya hanya bagiku sementara siapalah aku ini baginya, pantaskah jika aku memintanya menyebutku sahabat? Rindu itu membutakanku, menutup semua kasih dan sayangku padanya yang selama ini kujaga. Satu titik nila dalam sebuah keindahan dan keagungan cinta telah menghancurkan semuanya, mengubah sebuah ketulusan menjadi sebuah lelucon kamar tidurmu. ”Maafkan aku sahabat, teman terbaik, pribadi terkasihku jika sekali lagi aku gagal menyayangimu,” terluncur gumamku, doaku pada sosok sepi itu.</p>
<p>Maka kembaliku di titik ini, titik awal untuk mencari kembali kesejatian cinta. Belajar kembali untuk mencintai dan mencari makna di baliknya, seperti cinta Bisma pada Dewi Amba, yang rela menyerahkan nyawa bagi kehadiran Amba dalam pengorbanan yang paripurna dan ketulusan yang gemilang. Sekali lagi kubiarkan rindu ini tumbuh kembali di atas tunas yang pernah patah dan menjadikan rindu ini sebagai jalan untuk menemukan kesejatian diri, membuang segala keinginan hati dan segala angkara yang membelenggu jiwaku karena itulah sumber bencana bagi persahabatan.</p>
<p>Aku hendak belajar untuk mencintainya dengan sederhana karena cinta tak bisa dipaksakan dan toh tak perlu mengejarnya, jika aku mendengar kata-kata Gibran maka mungkin aku harus percaya bahwa jika cinta telah memilihmu, cinta akan datang padamu dan menentukan jalanmu.</p>
<p>”Tak akan kuminta lagi apapun darimu sayangku agar tak pernah akan kurasakan kecewa.” janjiku pada Alice yang hanya bisa kusampaikan pada lautan.</p>
<p>”Aku selalu dan akan tetap belajar menyayangimu, sesuatu yang tak pernah berubah dari diriku.” Itulah desis doa dari bibirku sebelum menutup mata malam itu, berharap tak bermimpi malam ini. Kuhanya ingin segera bangun dan kembali mengucapkan selamat pagi pada Aliceku. (ll)</p>
<p><em>ps: A friend is one who knows you and loves you just the same (Elbert Hubbard)</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lakulintang.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lakulintang.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lakulintang.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lakulintang.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lakulintang.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lakulintang.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lakulintang.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lakulintang.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lakulintang.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lakulintang.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lakulintang.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lakulintang.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lakulintang.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lakulintang.wordpress.com/200/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lakulintang.wordpress.com&amp;blog=15194703&amp;post=200&amp;subd=lakulintang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lakulintang.wordpress.com/2011/10/04/tentang-kerinduan-dan-kehilangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/09fd5dfe314ec13183181962be7683fc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lakulintang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lakulintang.files.wordpress.com/2011/10/roots_of_emotion_by_dimentichisi.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Ilustrasi (Roots of Emotion by Dimentichisi)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;O&#8221;</title>
		<link>http://lakulintang.wordpress.com/2011/09/14/o/</link>
		<comments>http://lakulintang.wordpress.com/2011/09/14/o/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Sep 2011 01:03:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lakulintang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[hati yang patah]]></category>
		<category><![CDATA[lingkaran abadi]]></category>
		<category><![CDATA[O]]></category>
		<category><![CDATA[penyesalan]]></category>
		<category><![CDATA[persahabatan]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat selalu memaafkan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lakulintang.wordpress.com/?p=195</guid>
		<description><![CDATA[Jika aku harus menuliskan namamu pada sebuah dinding maka aku akan menggambar sebuah lingkaran, bukan gambar hati. Karena hati bisa patah, namun lingkaran tak akan pernah berakhir. ”Rasanya sakit wan, kamu ternyata menyimpan dusta padaku selama ini, setelah kamu nyatakan bahwa kamu hendak jadi sahabatku, kamu ternyata masih mengharapkan lebih dari itu,” tersengguk Olla menyatakannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lakulintang.wordpress.com&amp;blog=15194703&amp;post=195&amp;subd=lakulintang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lakulintang.files.wordpress.com/2011/09/kolomkita-detik-com.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-196" title="kolomkita.detik.com" src="http://lakulintang.files.wordpress.com/2011/09/kolomkita-detik-com.jpg?w=300&#038;h=199" alt="kolomkita.detik.com" width="300" height="199" /></a>Jika aku harus menuliskan namamu pada sebuah dinding maka aku akan menggambar sebuah lingkaran, bukan gambar hati. Karena hati bisa patah, namun lingkaran tak akan pernah berakhir.</p>
<p>”Rasanya sakit wan, kamu ternyata menyimpan dusta padaku selama ini, setelah kamu nyatakan bahwa kamu hendak jadi sahabatku, kamu ternyata masih mengharapkan lebih dari itu,” tersengguk Olla menyatakannya pada petang di bawah taburan cahaya jingga dari matahari yang tenggelam di cakrawala.</p>
<p>”Maafkan aku Olla, aku bukannya nggak berusaha tapi ternyata rasa itu tak pernah bisa mati dalam hatiku, kamu terlanjur ada di sana,” lemah kujawab pernyataan itu bersama rasa bersalah yang demikian besar pada sahabatku, orang terbaik yang kumiliki saat ini.</p>
<p>”Kaupun di hatiku Wan, dan akan selalu begitu, namun aku tak pernah menuntut apapun darimu, lalu kenapa kamu masih menuntut lebih, kau tahu itu bukan pilihan kita sejak dulu kita menyatakan untuk saling percaya dan membebaskan satu sama lain?”</p>
<p>”Aku memaafkanmu Wan, seperti selalu aku berikan pada sahabatku. Terimakasih atas semua yang kau berikan, aku menghargainya dan aku bahagia kau telah jadikan aku sahabat. Tapi aku mungkin bukan orang yang kau inginkan saat ini.” Pungkasnya.</p>
<p>Setelah petang itu, Olla menghilang dan aku tak bisa menemukannya, bukan hanya tak bisa tapi tak merasa cukup layak untuk kembali menemuinya. Aku mengecewakannya terlalu dalam sehingga permaafan dari bibirnya malah membawaku ke dasar kesedihan.</p>
<p>Hari-hari kemudian terasa sangat sepi, tak ada lagi tawa Olla saat malam di tengah obrolan kami.</p>
<p>Tak ada lagi kemarahannya di kala aku berbuat bagai kanak-kanak.</p>
<p>Tiada lagi tangisnya di pelukku ketika kedukaan melanda hari-harinya</p>
<p>Tak ada orang yang membuatku sakit hati ketika ia lebih menikmati pekerjaanya daripada menghabiskan sore bersamaku.</p>
<p>Tak pernah kudengar lagi teriakannya di telpon ketika membangunkanku dari tidur.</p>
<p>Hilang sudah waktu-waktu indah kala Olla bercerita tentang kehidupan dan keindahan dunia ini.</p>
<p>Tak ada lagi kisah cinta yang dibagikan padaku saat ia begitu gembira bersama kekasihnya.</p>
<p>Aku hanya sendiri sekarang ketika menikmati cahaya rembulan dan bintang-bintang.</p>
<p>Aku kehilangan sebagian besar dari semangat untuk menikmati hidupku karena bagiku, semua tak penting bila hanya untukku sendiri.</p>
<p>Cuma penyesalan yang menjadi sahabatku, pengganti Olla yang sangat kusayangi, namun penyesalan tak membuatku hidup, sebaliknya ia menguburku dalam hari-hari kelam.</p>
<p>**********</p>
<p>Hari ini adalah tanggal yang paling penting bagiku, Olla berulang tahun. Di hari ini biasanya selalu ada bunga mawar putih baginya, perlambang kasih sejati nan suci. Sebagai balasannya, potongan kue pertama selalu diberikannya untukku bersama pelukan rekat dan ciuman mesra di pipiku. Membuatku melambung, bangga bisa menjadi orang yang penting bagi seseorang. Itu kuingat sebagai hadiah terbaik yang pernah kudapatkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>”Kirim atau ngga ya?” bimbang aku menimang-nimang kartu ucapan buatanku, bergambar sunset di pantai hasil bidikanku sendiri karena Olla begitu mencintai senja bermandi lembayung saat matahari tenggelam, bertuliskan sebaris doa dan permintaan maaf yang mungkin untuk keseribu kali kusampaikan:</p>
<p><em>Masih adakah ruang bagiku untuk kembali, menjadi bagian dari hidupmu lagi karena kau telanjur ada dalam hatiku, sahabat terbaikku?</em></p>
<p>”Ah hanya buang-buang waktu, telah puluhan kartu dan surat kukirimkan, semua tak berbalas!” Geram dan teriris hatiku saat ingat itu.</p>
<p>Kuremas dan kucampakkan kartu itu ke tempat sampah di sudut ruangku bercampur dengan sampah tak berguna lainnya. Mestinya akupun masuk tempat sampah juga karena cuma berakhir bagai sampah bagi Olla. Tak layak ku menyesal, bukan salah Olla meninggalkanku dalam kesenyapan ini. Aku layak diperlakukan begini.</p>
<p>Pada malam menjelang akhir hari itu, tetap aku mengucapkan nama Olla sebelum aku lelap. Semoga angin membawanya ke langit, tumbuh jadi doa yang akan disampaikan kembali ke Olla oleh sang malam. Semoga ia akan mendengar bahwa aku begitu merindukan dirinya.</p>
<p>Dan waktupun berlalu seperti hari-hari kemarin.</p>
<p>**********</p>
<p>Sepagi ini sudah puluhan ucapan ulang tahun diberikan padaku lewat wall di <em>account</em> sebuah jejaring sosial dimana Olla pernah ikut juga didalamnya, sebelum ia menghilang di hari itu. Dari seluruh nama, aku cuma mencari namanya, sahabatku yang hilang karena kecewa padaku. Tak kutemukan. Kuulangi lagi dengan harapan aku melewatkannya namun nihil, tak ada namanya.</p>
<p>Hari itu kemudian menjadi tak penting lagi. Sekedar menerima basa-basi ucapan dan candaan seperti ”Ayo traktir!’ atau ”makan-makan!!” yang bagiku malah terasa kampungan dan kekanak-kanakan. Aku mengharap Olla hadir kembali tapi ia tetap tak sudi.</p>
<p>”Katamu kau maafkan aku, lalu kenapa kau harus pergi?” protesku pada segelas Red Label di depanku, sloki kecil dengan gambar bayangan Olla di sisinya.</p>
<p>Aku kembali ke rumah dalam keadaan mabuk, entah berapa sloki kuminum untuk melupakan hari burukku ini. Kemarahanku tetap begitu besar, aku tiba-tiba benci dengan ruangku ini. Serta merta, kurengkuh satu kursi yang ada di dekatku, kulempar ke sembarang arah, semua barang di sekitar tampak seolah membenciku dan mereka semua pantas untuk dihancurkan. Teronggok aku dalam kekacauan malam itu, puing benda lemparanku, air dari pecahan gelas, bercampur dengan muntahan alkohol yang tak mampu ditampung oleh lambungku. Hari itu tetap jadi hari yang buruk.</p>
<p>*************</p>
<p>Pagi harinya, di depan pintu rumahku, kutemukan sebuah surat bersampul putih dengan sebuah tulisan tangan di atasnya. Surat itu tak sendirian, setangkai mawar putih menemaninya, lambang kesucian dan kesejatian cinta itu ada di sana. Cuma satu orang yang mengerti makna bunga ini, bunga lambang persahabatan kami. ”Olla ke sini,” pikirku. Pastilah semalam ia datang, ketika aku dalam keadaan tak pantas. ”Bodohnya aku!” sesalku, melewatkan kesempatan bertemu Olla setelah sekian lama merindukannya.</p>
<p><em>”Iwan, entah telah berapa rembulan purnama kita lewatkan, namun aku masih menatapnya ketika rembulan penuh, sambil memandangnya aku mengirimkan selaksa doa bagimu.</em></p>
<p><em>Aku tahu engkau melakukan kesalahan yang membuatku sangat terluka, luka yang aku sendiri harus sembuhkan karena semakin dekat aku padamu, semakin terasa luka itu. Namun luka itu tak mampu membunuh kasih sayangku padamu seperti yang telah kau berikan selama ini. Aku tak akan lupa padamu, kaulah yang berada di sampingku saat aku jadi terdakwa di depan pengadilan dunia ini. </em><em>Saat semua orang membenciku, kau tetap tak beranjak pergi dari sampingku. </em><em>Kaulah yang menemaniku saat aku tak punya apa-apa untuk kuberikan selain tangis dan kesedihan. </em></p>
<p><em>Orang mengatakan bahwa persahabatan lebih sulit dari sebuah roman percintaan. Roman selalu memberikan imbalan yang sepadan, namun persahabatan tak pernah  meminta apapun, maka betapa kecewanya aku ketika kamu menuntut lebih dari aku, sesuatu yang sebenarnya telah kau miliki selama ini tanpa harus memintaku lagi. Tapi aku memaafkanmu dengan harapan waktu akan memberi kita ruang kembali untuk memikirkan semuanya, menyembuhkan semua sakit ini. Aku yakin sakit ini akan mendewasakan kita.</em></p>
<p><em>Aku tetap sahabatmu wan, kau boleh percaya itu. Kita akan bertemu lagi suatu hari nanti ketika aku cukup memiliki keberanian. Beri aku waktu sebentar lagi, kuharap kamu bersabar lebih lama jika kamu memang menyayangiku. Terimalah mawar putih kita ini, kuharap kamu belum lupa akan mawar ini. Selamat ulang tahun!</em></p>
<p><em>Yang selalu menyayangimu, sahabatmu</em></p>
<p><em>Olla</em></p>
<p>Air mataku tak terasa telah  mengalir, sebuah katup penuh berisi magma merah yang selama ini bergolak oleh kemarahan, frustrasi, rasa bersalah, kerinduan yang tak terperi seolah semua tumpah dalam suatu erupsi besar. Ada kelegaan, bukan, itu adalah kegembiraan terbesarku setelah demikian lama tenggelam dalam kekelaman.</p>
<p>”Terimakasih Olla, kau tidak melupakanku. Kembalilah, aku akan selalu menunggumu di sini tanpa pinta apapun kecuali hadirmu, kembalilah sahabatku dan ajari aku makna menjadi sahabat!”</p>
<p>Mawar itu ada di situ, ia telah tumbuh dan mekar kembali dalam hatiku yang selama ini tandus mengering oleh sepi dan sesal. (ll)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lakulintang.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lakulintang.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lakulintang.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lakulintang.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lakulintang.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lakulintang.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lakulintang.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lakulintang.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lakulintang.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lakulintang.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lakulintang.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lakulintang.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lakulintang.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lakulintang.wordpress.com/195/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lakulintang.wordpress.com&amp;blog=15194703&amp;post=195&amp;subd=lakulintang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lakulintang.wordpress.com/2011/09/14/o/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/09fd5dfe314ec13183181962be7683fc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lakulintang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lakulintang.files.wordpress.com/2011/09/kolomkita-detik-com.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">kolomkita.detik.com</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Takkan Kubiarkan Kau Bersedih*</title>
		<link>http://lakulintang.wordpress.com/2011/08/16/takkan-kubiarkan-kau-bersedih/</link>
		<comments>http://lakulintang.wordpress.com/2011/08/16/takkan-kubiarkan-kau-bersedih/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Aug 2011 06:43:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lakulintang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[danau toba]]></category>
		<category><![CDATA[penghiburan]]></category>
		<category><![CDATA[perpisahan]]></category>
		<category><![CDATA[tak kan kubiarkan kau bersedih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lakulintang.wordpress.com/?p=190</guid>
		<description><![CDATA[Terbangunku di pagi buta ini, angin dingin dataran tinggi Toba serasa menggelungku dalam dekapan menusuk tulang. Setengah terbuka mataku mencari tubuh Lamtiur di sampingku namun tak tampak keberadaannya. Lewat jendela kaca kulihat sosok yang kucari. Lamtiur berdiri di luar menantang dingin angin, bersedekap menutup rapat tubuh telanjangnya dalam balutan selimut tebal yang diambilnya dari tempat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lakulintang.wordpress.com&amp;blog=15194703&amp;post=190&amp;subd=lakulintang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lakulintang.files.wordpress.com/2011/08/toba-before-dawn.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-191" title="Toba before dawn" src="http://lakulintang.files.wordpress.com/2011/08/toba-before-dawn.jpg?w=300&#038;h=183" alt="" width="300" height="183" /></a>Terbangunku di pagi buta ini, angin dingin dataran tinggi Toba serasa menggelungku dalam dekapan menusuk tulang. Setengah terbuka mataku mencari tubuh Lamtiur di sampingku namun tak tampak keberadaannya. Lewat jendela kaca kulihat sosok yang kucari.</p>
<p>Lamtiur berdiri di luar menantang dingin angin, bersedekap menutup rapat tubuh telanjangnya dalam balutan selimut tebal yang diambilnya dari tempat tidur kami. Matanya menerawang jauh melintasi permukaan danau yang masih gelap. Tubuh ramping itu tegak tak bergerak, mematung dalam sunyi dan dingin. Kupaksakan badan ini bangun, melemparkan kakiku ke bawah menginjak lantai sedingin es, kukenakan pakaianku kembali dan melangkah keluar mendekati sosok itu.</p>
<p>“Apa yang kau pikirkan sayang sehingga kau tampak nanar menatap kejauhan seperti itu,” tanyaku. Lamtiur tersentak, kaget dengan kehadiranku yang tak dinyananya.</p>
<p>“Tak ada apa-apa, kembalilah tidur!” ujarnya.</p>
<p>”Jika tidak ada apa-apa kenapa aku lihat sembab matamu, bahkan aku masih melihat airmata di pipimu?” tanyaku. Serta merta Lamtiur mengelap pipi dan lingkar matanya dengan punggung tangan dan ujung selimut penutup tubuhnya.</p>
<p>“Hei, ada apa, ceritakan padaku ada apa di benakmu. Apa yang membuatmu bersedih?”</p>
<p>“Kita telah memiliki malam yang indah semalam, apakah kamu menyesali itu?” tanyaku kembali dengan lembut sambil memegang kedua bahu Lamtiur dan memutarnya menghadapku. Namun Lamtiur menolak menatapku, kepalanya ditundukkan seakan tak hendak melawan mataku.</p>
<p>Tiba-tiba wajahnya ditubrukkan ke dadaku bersamaan dengan pecahnya isak tangis. Dengan lembut kudekap tubuhnya rapat ke tubuhku, membiarkan seluruh wajah, badan, dan pinggulnya menjadi satu dengan tubuhku, memberinya waktu untuk menumpahkan semua air mata dan emosinya. Terasa jarinya meremas punggungku dengan keras namun tak terasa sakit, aku rasakan emosi yang begitu hebat kala ia melakukannya, terkadang tangannya mengepal dan memukuli punggungku. Kubiarkan semua itu terjadi beberapa saat sampai ahirnya ia terdiam dan menarik tubuhnya dari aku.</p>
<p>“Kenapa kita harus melakukannya ketika kita tahu kau akan pergi esok hari?” mata Lamtiur sekarang menatap mataku tajam.</p>
<p>”Kau yang memintaku kan setelah aku menolaknya karena aku takut menyakitimu ketika aku harus meninggalkanmu besok,” jawabku.</p>
<p>’Kenapa tak kau cegah aku?” sekarang suaranya meninggi, emosinya kembali naik.</p>
<p>”Tiur sayang, sudahlah, kita tahu kita sama-sama menginginkannya, dan kita betul-betul menikmati semua itu semalam. Aku bahkan masih bisa mendengar eranganmu menyebut namaku saat kau berada di puncak. Harum tubuhmu pun belum hilang dari badanku. Kenapa harus kau sesali itu?” tanyaku kembali padanya.</p>
<p>”Kau akan tetap pergi setelah semua ini? Meninggalkan aku dalam kesendirian dan sepi ini?” kejarnya.</p>
<p>Selama sekian detik aku tak bisa mengatakan apapun, aku takut jawabanku akan makin menyakitinya.</p>
<p>”Bagaimanapun aku harus pergi Tiur, kamu tahu sekali itu. Aku harus pergi agar aku bisa kembali padamu. Aku memang bukan orang yang alim namun aku juga bukan seorang bajingan. Aku mencin&#8230;”</p>
<p>”Tolong jangan katakan, kata itu akan lebih menyakitkan bagiku,” potongnya cepat dan melemparkan arah pandangnya kembali ke arah danau.</p>
<p>”Tidurlah dan pergilah esok, dan jangan kau bangunkan aku!” serak suara Lamtiur saat mengatakannya, tenggorokannya seperti tertahan sesuatu.</p>
<p>Kutahu makin banyak kata kuucapkan, makin teriris hatinya dan menolak kenyataan ini, maka kuambil gitarku, mulai memetiknya sambil kualunkan sebuah lagu yang telah sangat ia kenal.</p>
<p><em>aha do arsak ni rohami<br />
aha na holip dirohami</em></p>
<p><em>umbaen na sai holsoan ho, </em></p>
<p><em>paboa ma tu au dahasian</em></p>
<p><em>au sugarima tardodo au<br />
akka nabuni dirohami</em></p>
<p><em>naeng ma putikonku,<br />
asa tung mago holso mi ito</em></p>
<p><em>tung so huloas ho ito di ago arsak<br />
tung so huloas ho ito sai tumatangis<br />
asa rap mekkel hita nadua<br />
asa rap mekkel hita nadua hasian**</em></p>
<p>Lamtiur hanya terdiam seribu bahasa, kutahu air mata itu kembali jatuh. Matanya terpejam untuk waktu yang terasa begitu lama.</p>
<p>Ia akhirnya bergerak, melangkah ke arahku. Kuhentikan senandungku, diambilnya gitar itu dan ditaruh pelan di kursi. Ditariknya lembut kedua tanganku, tanpa kata membawaku kembali ke ranjang itu.</p>
<p>Air mata masih meleleh dari matanya, namun kali ini ada senyum, tak sempat aku mengatakan apapun, bibir Lamtiur telah mengunci bibirku, melumatnya dan mendorong kembali tubuhku ke permukaan ranjang, tangannya meremas kuat semua yang ia pegang, rambut, kepala, bahu dan badanku seakan tak hendak dilepaskannya, selimut penutup tubuhnya telah merosot jatuh membiarkan keindahan itu kembali terpapar di depanku. Kuserahkan diriku dalam genggamannya pada pagi buta itu, aku adalah pelayan baginya, untuk berikan kebahagiaan dan kepuasan pada dahaganya akan hadirku saat itu.</p>
<p>Aku mulai ragu apakah aku masih bisa menentukan esok hari, tapi aku sudah tak peduli lagi. (ll)</p>
<p><strong><em>Catatan: </em></strong></p>
<p><em>*Tung so huloas ho marsak (lagu batak, dipopulerkan oleh Julius Sitanggang)<br />
</em></p>
<p><em>**apa yang sedang kau pikirkan<br />
apa yang tersembunyi dalam hatimu</em></p>
<p><em>yang telah membuatmu galau<br />
ceritakan padaku sayang</p>
<p>seandainya aku tahu yang kau pikirkan<br />
apa yang terselip di hatimu</em></p>
<p><em>kan kuhapuskan itu<br />
agar kau bahagia sayangku</p>
<p>takkan kubiarkan kau bersedih<br />
takkan kubiarkan kau menangis<br />
agar kita tertawa bersama<br />
agar kita tertawa bersama sayang </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>(terimakasih pada Ramotan Manulang yang telah menerjemahkan lirik ini ke Bahasa Indonesia)</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lakulintang.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lakulintang.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lakulintang.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lakulintang.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lakulintang.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lakulintang.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lakulintang.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lakulintang.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lakulintang.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lakulintang.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lakulintang.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lakulintang.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lakulintang.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lakulintang.wordpress.com/190/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lakulintang.wordpress.com&amp;blog=15194703&amp;post=190&amp;subd=lakulintang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lakulintang.wordpress.com/2011/08/16/takkan-kubiarkan-kau-bersedih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/09fd5dfe314ec13183181962be7683fc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lakulintang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lakulintang.files.wordpress.com/2011/08/toba-before-dawn.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Toba before dawn</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kasih dan Amarah Tak Bisa Tinggal Bersama</title>
		<link>http://lakulintang.wordpress.com/2011/07/27/kasih-dan-amarah-tak-bisa-tinggal-bersama/</link>
		<comments>http://lakulintang.wordpress.com/2011/07/27/kasih-dan-amarah-tak-bisa-tinggal-bersama/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jul 2011 07:54:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lakulintang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[amarah dan kasih]]></category>
		<category><![CDATA[cemburu]]></category>
		<category><![CDATA[marah dan cinta tak bisa bersama]]></category>
		<category><![CDATA[persahabatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lakulintang.wordpress.com/?p=186</guid>
		<description><![CDATA[Dalam kegembiraaan, teman-teman akan mengenali kita namun dalam kesengsaraan, kita akan mengenal siapa sahabat kita. Sahabat tak akan menyakiti dengan sengaja, namun kecintaan yang terlalu besar memang dapat membunuh. Rumusan yang bahkan lebih rumit daripada percintaan ini kutulis besar-besar di tembok kamarku. Bahkan terpatri di dinding hatiku yang telah tersedia untuk satu nama. Ia telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lakulintang.wordpress.com&amp;blog=15194703&amp;post=186&amp;subd=lakulintang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lakulintang.files.wordpress.com/2011/07/from-devianart-by-armands.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-187" title="From Devianart-by-Armands" src="http://lakulintang.files.wordpress.com/2011/07/from-devianart-by-armands.jpg?w=300&#038;h=200" alt="" width="300" height="200" /></a>Dalam kegembiraaan, teman-teman akan mengenali kita namun dalam kesengsaraan, kita akan mengenal siapa sahabat kita. Sahabat tak akan menyakiti dengan sengaja, namun kecintaan yang terlalu besar memang dapat membunuh.</p>
<p>Rumusan yang bahkan lebih rumit daripada percintaan ini kutulis besar-besar di tembok kamarku. Bahkan terpatri di dinding hatiku yang telah tersedia untuk satu nama. Ia telah menghuni ruang itu tanpa kusadari sejak waktu-waktu lalu, saat aku jatuh cinta padanya. Cinta itu tak pernah berbalas, dan sejak awal aku memang tak pernah mengharapkan balasannya. Aku mencintainya tanpa alasan. Tapi, bukankah cinta memang tak pernah punya musabab, justru ia adalah <em>causa</em> dari segalanya. Aku mencintainya karena aku mencintainya. Titik. Aku mencintainya maka aku akan lakukan segala upayaku untuk kebahagiannya. Pikiranku, perasaaanku, imajinasiku, semangatku, dan doaku selalu baginya dan selalu menyayanginya dengan segenap hati. Ia menjadi hal paling penting bagiku, bahkan melebihi diriku sendiri karena tanpa dirinya aku sendiri adalah manusia tak berarti.</p>
<p>”Aku harus pergi Jo, bossku menempatkanku di kantor cabang Palembang untuk setahun ke depan.” katanya seminggu yang lalu.</p>
<p>”Kok mendadak sekali? Apa karena kejadian hari itu ketika aku menghajarnya di depanmu?”tanyaku balik.</p>
<p>”Mungkin saja tapi aku ngga akan mempermasalahkannya lagi Jo, memang sudah harus begitu mungkin suratannya. Lagipula aku tahu apa latar belakangnya kenapa kau lakukan itu. Kau membelaku kan?” terang Audry sambil menyunggingkan senyumnya yang teduh.</p>
<p>”Tapi kenapa Palembang? Setahuku, kau pernah cerita bahwa kantor cabang itu adalah yang paling sulit dan semacam buangan bagi para karyawan yang ngga bisa <em>perform</em>, iya kan?”</p>
<p>”Hmmm&#8230;aku ngga mau memikirkan itu lebih awal Jo, tenang aja, aku pasti bisa melewatinya. Jika nanti tempat itu ngga cocok untukku, aku bisa <em>resign</em> sewaktu-waktu kok..”</p>
<p>”Maafkan aku Audry, aku kelepasan waktu itu, tak bisa kutahan emosiku melihat perlakuannya seperti itu padamu mentang-mentang dia bosmu. Dia ngga pantas memperlakukanmu seperti itu, memintamu selalu bersamanya dan melayani maunya, kamu kan bukan sekretaris pribadinya!” Emosiku kembali naik saat ingat kejadian itu.</p>
<p>”Sudahlah Jo, aku paham kamu benar kok, masalahnya ini menyangkut sebuah otorita yang tak bisa dibantah. Dia yang mengatur hidupku saat ini, namun kamu telah membuat hidupku yang membosankan itu berwarna-warni. Aku tetap menerima kondisi ini” lanjut Audry tanpa emosi berlebih.</p>
<p>”Pengecut dia itu. Mestinya ia menghadapi kembali aku karena aku yang membuat masalah, bukan kamu. Orang berkualitas rendah seperti itu tak layak menjadi pemimpin, apalagi membawahi puluhan orang. Bagaimana ia bisa memegang tanggung jawab atas sebegitu banyak orang jika ia tak mampu mengendalikan egonya sendiri?”  Luapan perasaan yang tertahan membuat nada suaraku menaik. Namun wajah Audry tetap tidak berubah.</p>
<p>”Bagaimana kalau aku menemuinya lagi? Bukan untuk minta maaf namun untuk mengajaknya berpikir bijak dalam hal ini karena ini menyangkut nasib dan hidupmu ke depan?” suaraku kembali melunak.</p>
<p>”Tak usah Jo, nanti situasinya akan makin memburuk. Kita tahu kita berhadapan dengan manusia berhati kerdil. Jangan ikuti kehendaknya karena cuma akan membuat kamu kerdil juga nanti! Biarlah kekerdilan hanya milik para kurcaci” suara Audry mulai serius saat matanya mulai berkaca-kaca.</p>
<p>”Maafkan aku Audry, aku terlalu menyayangimu sehingga tak kusadari justru menyakitimu.”</p>
<p>”Tak apa Jo, aku tahu kamu begitu mengasihiku” pungkasnya.Kupeluk erat Audry dalam kasih yang begitu besar, Audrypun membalas pelukanku sambil berlinang air mata. Sesal itu begitu berat terasa di dadaku, saat itu aku merasa begitu tak berdaya.</p>
<p>Itu adalah percakapanku terakhir dengan Audry, seorang yang sangat tulus dan baik hati namun terjebak dalam amarah dan cemburu. Perempuan manis yang terpaksa jadi korban sahabatnya sendiri yang terlalu mencintainya.</p>
<p>Aku kehilangan dirinya. Sesuatu yang besar lenyap meninggalkan ruang hampa yang begitu besar dalam ruang diriku. Kemarahanku tak lagi berguna, aku tak lagi bisa melindunginya, aku tak membantu apapun. Hanya sesal yang tertinggal dan kecemasan menggayut dari waktu ke waktu.</p>
<p>Semakin dalam penyesalan itu ketika empat bulan kemudian, aku mendengar ceritanya di tempat baru. ”Jo, aku akhirnya <em>resign</em>, tempat itu tak bisa lagi jadi tempatku bekerja.” Kekhawatiranku ternyata terbukti. Bagai mendengar ledakan petir di hari terik ketika aku mendengar dari mulutnya sendiri di antara sesenggukan tangis di ujung telpon Audry mengatakan ”&#8230;.aku diperkosa oleh pimpinanku di sini!”</p>
<p>Pecah sudah emosiku saat itu, kata-kata sudah tak bisa lagi kudengar dengan jernih. Kurenggut tas, pakaian, dan kebutuhan lain seperlunya, menuju bandara untuk segera ke Palembang, dan sekarang aku tak sendirian, aku membawa sesuatu bersamaku, membesar dalam dadaku, rasa dendam! Tapi sekarang aku tak akan bisa memaafkan siapapun itu yang telah menyakiti Audry sahabatku yang begitu lembut. (ll)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lakulintang.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lakulintang.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lakulintang.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lakulintang.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lakulintang.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lakulintang.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lakulintang.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lakulintang.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lakulintang.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lakulintang.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lakulintang.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lakulintang.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lakulintang.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lakulintang.wordpress.com/186/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lakulintang.wordpress.com&amp;blog=15194703&amp;post=186&amp;subd=lakulintang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lakulintang.wordpress.com/2011/07/27/kasih-dan-amarah-tak-bisa-tinggal-bersama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/09fd5dfe314ec13183181962be7683fc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lakulintang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lakulintang.files.wordpress.com/2011/07/from-devianart-by-armands.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">From Devianart-by-Armands</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perpisahan Terakhir</title>
		<link>http://lakulintang.wordpress.com/2011/07/22/perpisahan-terakhir/</link>
		<comments>http://lakulintang.wordpress.com/2011/07/22/perpisahan-terakhir/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jul 2011 15:31:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lakulintang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[cinta abadi]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[kerinduan]]></category>
		<category><![CDATA[perkawinan]]></category>
		<category><![CDATA[perpisahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lakulintang.wordpress.com/?p=181</guid>
		<description><![CDATA[Canggung aku masuk ruang putih ini, dengan pakaian kumal karena baru saja mengalami perjalanan 7 jam dari tempatku tinggal, mengejar waktu yang semakin sedikit bagi Tiara. Kulihat beberapa orang hadir juga di dalam sana. Kuanggukkan kepalaku pada ayah, ibu, kakak, dan adik terkecilnya yang jelas tampak berwajah mendung, hanya satu orang yang tak kulihat, Gaby, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lakulintang.wordpress.com&amp;blog=15194703&amp;post=181&amp;subd=lakulintang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lakulintang.files.wordpress.com/2011/07/blue-roses.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-182" title="blue-roses" src="http://lakulintang.files.wordpress.com/2011/07/blue-roses.jpg?w=300&#038;h=199" alt="" width="300" height="199" /></a>Canggung aku masuk ruang putih ini, dengan pakaian kumal karena baru saja mengalami perjalanan 7 jam dari tempatku tinggal, mengejar waktu yang semakin sedikit bagi Tiara. Kulihat beberapa orang hadir juga di dalam sana. Kuanggukkan kepalaku pada ayah, ibu, kakak, dan adik terkecilnya yang jelas tampak berwajah mendung, hanya satu orang yang tak kulihat, Gaby, anak Tiara,&#8230;&#8230;anakku.</p>
<p>“An, kau datang juga, kemarilah mendekat padaku, aku ingin memandangmu,” berkata lemah ia padaku saat aku memasuki ruang itu.</p>
<p>“Aku ingat baju ini, An, aku yang membelikannya untukmu kan?”, kembali Tiara bertanya</p>
<p>“Dan jaket itu, kita membelinya saat kita bersama ke Bandung kan?” lanjutnya.</p>
<p>Tak ada yang bisa kuucapkan untuk menjawabnya, hanya kepalaku yang kuanggukkan atas setiap pertanyaannya dan berusaha tersenyum, terasa begitu getir.</p>
<p>Aku memandangnya dengan penuh rasa kalut, rasa bersalah, tak percaya bahwa Tiara menjadi seperti ini. Tubuhnya habis digerogoti kanker, daya tahannya sudah pada batas akhir, Tiara akan menyelesaikan tugasnya di dunia, itu yang pasti, mungkin segera. ”Apa yang membuatnya menunggu, tetap bertahan dengan kekuatan terakhirnya?”, muncul tanya dalam benakku meski tak pernah bisa kuucapkan di depannya.</p>
<p>”Mana Gaby, aku kok <em>ngga</em> ngeliat dia?”,  kumencoba membuka segel komunikasi di antara kecanggunganku ini.</p>
<p>”Tantenya membawa dia pergi, dia pingsan tadi setelah seharian menangis, sepertinya dia sadar bahwa aku akan pergi,” jawab Tiara sambil tersenyum. Sama dengan senyumku, berusaha menguatkan diri dan menahan emosi yang sedemikian meluap ini, masih berusaha menampakkan ketabahannya. Aku tahu ia masih berusaha menipu dirinya sendiri.</p>
<p>Aku tahu persis Gaby adalah segalanya bagi Tiara, putri yang lahir dari cinta kami, gairah kami, dan impian yang pernah kami punya di masa lalu. Betul-betul segala-galanya, sampai ia rela kehilangan aku, kehilangan perkawinan kami supaya Gaby dapat tinggal dalam rumah yang nyaman jauh dari suasana pertengkaran kami.</p>
<p>Seakan menyadari suasana canggungku, keluarga Tiara beranjak keluar dan membiarkan kami berdua saja di dalam.</p>
<p>”Aku menunggumu An, aku lega kau bisa datang saat ini. Aku tak tahu apakah aku masih bisa melihat matahari besok pagi,” suaranya seperti tertahan namun bisa kudengar.</p>
<p>”Aku hendak memastikan Gaby akan bersama ayahnya, dia merindukanmu An, maafkan aku karena aku tak bisa lagi menemaninya. Cuma aku dan kamu yang bisa mencintainya sepenuh hati.” lanjutnya.</p>
<p>Tiara berhenti sejenak sambil tersengal..kusentuh jemarinya, kukecup kembali jari-jari itu setelah sekian lama tak bisa kuberikan padanya. Matanya sudah tampak sangat redup, meski kehidupan masih ada di sana, cahaya itu masih tinggal. ”Perempuan tangguhku.”</p>
<p>”Jangan khawatirkan Gaby, aku mencintainya seperti kau mencintainya Tia, dia akan tumbuh menjadi seorang gadis cantik, pintar dan pemberani seperti mamanya, seperti yang pernah kita doakan di depan Bunda Maria saat itu, kamu masih ingat?” tanyaku pada Tiara yang kemudian tersenyum. Tak terasa, air mataku telah jatuh ke pipi saat mengucapkan itu. Semua kenangan indah bersamanya kembali.</p>
<p>”Terimakasih An, aku percaya kamu akan penuhi janjimu, itu membuatku lega” jawabnya lirih.</p>
<p>”Istirahatlah Tia, kau perlu rehat, aku akan menjagamu seperti di masa-masa lalu, di sini. Aku juga ingin bertemu Gaby nanti, ” pintaku, tak sanggup melihatnya tersiksa seperti itu.</p>
<p>”Hmmm&#8230;<em>I will rest anyway An</em>&#8230;, boleh aku minta satu hal lagi padamu?” tanya Tiara kembali.</p>
<p>”Tentu saja” jawabku.</p>
<p>”Emm&#8230;bohongi aku untuk yang terakhir kalinya, katakan kau mencintaiku An, sesudah itu aku tak menginginkan apapun lagi” ucapnya.</p>
<p>Terkejut aku dengan permintaan yang tak pernah kusangka-sangka itu. Emosiku seperti diaduk dengan keras mendengar kata-kata Tiara itu. ”Apakah kata-kata itu masih punya arti sekarang?” pikirku.</p>
<p>”Aku rindu mendengar kalimat itu darimu An, juga mata yang memandang penuh kasihmu saat mengatakan itu” lanjutnya.</p>
<p>Air mataku tak tertahan lagi dan kata-kata tak bisa lagi keluar dari mulutku, aku cuma memandangnya lama dan lekat dalam derai air mata, tetap tak mampu mengatakan apapun sampai akhirnya kulihat kelopak matanya mulai melemah dan hendak mengatup.</p>
<p>Kugenggam erat jemarinya dan kudorong kepalaku ke samping kepalanya, kubisikkan kalimat itu di telinganya. ”Aku mencintaimu Tiara” bercampur dengan isak dan sedanku di samping wajah cantik Tiara. Sempat kulihat ia tersenyum, untuk kemudian menutup mata, senyum itu masih ada di bibirnya.</p>
<p><em>In my hands<br />
A legacy of memories<br />
I can hear you say my name<br />
I can almost see your smile<br />
Feel the warmth of your embrace<br />
But there is nothing but silence now<br />
Around the one I loved<br />
Is this our farewell? (ll)</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lakulintang.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lakulintang.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lakulintang.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lakulintang.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lakulintang.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lakulintang.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lakulintang.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lakulintang.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lakulintang.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lakulintang.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lakulintang.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lakulintang.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lakulintang.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lakulintang.wordpress.com/181/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lakulintang.wordpress.com&amp;blog=15194703&amp;post=181&amp;subd=lakulintang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lakulintang.wordpress.com/2011/07/22/perpisahan-terakhir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/09fd5dfe314ec13183181962be7683fc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lakulintang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lakulintang.files.wordpress.com/2011/07/blue-roses.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">blue-roses</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Luka itu Masih Ada</title>
		<link>http://lakulintang.wordpress.com/2011/07/13/luka-itu-masih-ada/</link>
		<comments>http://lakulintang.wordpress.com/2011/07/13/luka-itu-masih-ada/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jul 2011 05:13:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lakulintang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[kebebasan]]></category>
		<category><![CDATA[kembali]]></category>
		<category><![CDATA[patah hati]]></category>
		<category><![CDATA[sakit hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lakulintang.wordpress.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[Ragu aku memasuki halaman rumah mungil ini, kuberanikan diri untuk mengetuk pintu warna krem itu, karyaku sendiri di waktu lalu. Sebuah bayang tampak bergerak, membuka tirai, dan mendesah, lalu membuka pintu kayu itu. “Untuk apa kau datang lagi?’ tanyanya di balik pintu yang hanya terbuka sedikit. “Bolehkah aku kembali padamu dan memulai semuanya dari awal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lakulintang.wordpress.com&amp;blog=15194703&amp;post=176&amp;subd=lakulintang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lakulintang.files.wordpress.com/2011/07/broken-heart.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-177" title="" src="http://lakulintang.files.wordpress.com/2011/07/broken-heart.jpg?w=300&#038;h=199" alt="" width="300" height="199" /></a>Ragu aku memasuki halaman rumah mungil ini, kuberanikan diri untuk mengetuk pintu warna krem itu, karyaku sendiri di waktu lalu.</p>
<p>Sebuah bayang tampak bergerak, membuka tirai, dan mendesah, lalu membuka pintu kayu itu.</p>
<p>“Untuk apa kau datang lagi?’ tanyanya di balik pintu yang hanya terbuka sedikit.</p>
<p>“Bolehkah aku kembali padamu dan memulai semuanya dari awal lagi?” jawabku dengan tanya.</p>
<p>”Aku tak butuh teman, aku bisa menjaga diriku sendiri, lagipula aku tahu kau lebih mencintai dirimu sendiri dan kebebasanmu, bukan aku” jawabnya.</p>
<p>”Kau masih marah Sin&#8230;.?” tanyaku.</p>
<p>Tak berjawab, cuma terdengar kembali desahan itu lagi, kali ini lebih panjang.</p>
<p>Suara motor yang hilir mudik mengisi ruang kosong itu. Taktala suara itu hilang, kesunyian lah yang mengambil alih.</p>
<p>Mata Sinta memandang tajam padaku, kurasakan bara merah masih ada di wajah cantik itu.</p>
<p>”Masih perlukah aku menjawabnya Han?” ucap Sinta</p>
<p>”Tak perlu Sin, aku sudah tahu bahwa aku tak diinginkan untuk kembali ke sini,” ujarku sambil menahan rasa sakit yang begitu perih.</p>
<p>”Maafkan aku Sinta jika luka itu tak jua sembuh,” lirih kuucapkan kalimat itu sambil menatap matanya, untuk mungkin yang terakhir kali.</p>
<p>Ada kaca-kaca yang dibendung pada matanya.</p>
<p>Sinta tak menjawab, perlahan dirinya menutup pintu.</p>
<p>Jalan setapak keluar rumah adalah tujuan berikutnya, ketika telingaku mendengar sesuatu yang membuat langkahku terhenti, terdengar isak dari balik pintu yang telah tertutup itu.</p>
<p>”Ia masih mencintaiku,” aku yakin itu seyakin bahwa pintu itu tak akan terbuka kembali.</p>
<p>Dedaunan di ujung pelataran mengantarku keluar dan meninggalkan semuanya, menuju kegelapan malam tanpa fajar untuk mencari sendiri jawaban atas benar dan salahku. Gerimis pun datang, menghantarkan suasana melankolis dalam hati yang kering ini.</p>
<p><em>I know it’s hard to keep an open heart<br />
When even friend seems out to harm you<br />
But if you could heal a broken heart<br />
Wouldn’t time be out to charm you&#8230;(ll)</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lakulintang.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lakulintang.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lakulintang.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lakulintang.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lakulintang.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lakulintang.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lakulintang.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lakulintang.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lakulintang.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lakulintang.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lakulintang.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lakulintang.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lakulintang.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lakulintang.wordpress.com/176/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lakulintang.wordpress.com&amp;blog=15194703&amp;post=176&amp;subd=lakulintang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lakulintang.wordpress.com/2011/07/13/luka-itu-masih-ada/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/09fd5dfe314ec13183181962be7683fc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lakulintang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lakulintang.files.wordpress.com/2011/07/broken-heart.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
